HIPPINDO: Ritel Dinilai Jadi Kunci Indonesia Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
- 26 Agt 2026 18:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketua Panitia IRSE 2026 Haryanto Pratantara menilai sektor ritel memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
- Target pertumbuhan ekonomi hingga delapan persen membutuhkan penguatan sektor ritel beserta ekosistemnya.
- Konsumsi dalam negeri saat ini menyumbang lebih dari 50 persen terhadap perekonomian Indonesia, sehingga pertumbuhan konsumsi domestik bergantung pada kemampuan sektor ritel.
RRI.CO.ID, Jakarta – Ketua Panitia IRSE 2026 Haryanto Pratantara menilai sektor ritel memiliki peran strategis mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi hingga delapan persen membutuhkan penguatan sektor ritel beserta ekosistemnya.
Ia menjelaskan konsumsi dalam negeri saat ini menyumbang lebih dari 50 persen terhadap perekonomian Indonesia. Karena itu, lanjutnya, pertumbuhan konsumsi domestik tidak terlepas dari kemampuan sektor ritel menyediakan kebutuhan masyarakat.
“Ekonomi Indonesia harus didorong pertumbuhannya bahkan sampai ke angka delapan persen seperti yang kita cita-citakan bersama. Itu hanya bisa dicapai apabila sektor ritel dan ekosistemnya bisa bertumbuh dengan baik,” kata Haryanto yang juga sebagai Sekretaris Jenderal Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) tersebut saat pembukaan Indonesia Retail Summit and Expo (IRSE) 2026, di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.
Selain itu, menurut Haryanto, sektor ritel juga memiliki kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja di berbagai wilayah Indonesia. Namun, ia menilai karakter padat karya tersebut kerap terlupakan karena istilah padat karya lebih sering dikaitkan dengan industri manufaktur.
“Ritel merupakan sektor yang sangat padat karya, yang menyerap jutaan tenaga kerja. Tapi sayangnya sering terlupakan bahwa kalau ritel ini padat karya, karena biasanya definisi padat karya dikaitkan ke industri manufaktur,” ucapnya.
Haryanto kemudian juga menyoroti sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi lainnya yang memiliki keterkaitan erat dengan aktivitas belanja wisatawan. Menurutnya, Indonesia telah memiliki objek wisata dan kuliner yang kuat, tetapi potensi shopping atau kegiatan belanja masih perlu dikembangkan.
Sekjen HIPPINDO tersebut menilai Indonesia sebenarnya memiliki peluang menarik lebih banyak wisatawan melalui pengalaman belanja yang kompetitif. Menurutnya, kelengkapan produk, harga, dan variasi barang menjadi kunci meningkatkan minat wisatawan berbelanja di Indonesia.
“Indonesia memiliki dua hal pertama, objek wisata yang bagus dan kuliner yang bervariasi dan sangat enak. Tetapi sayangnya, jarang sekali turis ke Indonesia untuk berbelanja,” ujar Haryanto.
Haryanto juga mengatakan pelaku usaha perlu memahami konsumen secara mendalam agar mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar. Menurutnya, kemampuan tersebut harus diikuti inovasi agar setiap merek mampu memberikan layanan lebih baik dibandingkan kompetitornya.
Ini sejalan dengan tema IRSE 2026, 'Rethinking Retail: The Future is Customer-Led', yang menekankan pentingnya menempatkan konsumen sebagai dasar dalam pengembangan bisnis ritel. Menurutnya, tema tersebut mengingatkan pelaku usaha agar produk dan layanan yang diberikan tetap relevan dengan kebutuhan konsumen.
“Apapun yang kita lakukan sekarang sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen kita masing-masing. Langkah pertama adalah kita harus mampu mengenali konsumen kita siapa, apa kebutuhan dan keinginannya,” katanya.
Ia menambahkan efisiensi bisnis tidak seharusnya mengorbankan investasi terhadap peningkatan kompetensi pelaku usaha. Menurutnya, forum IRSE 2026 dapat menjadi ruang memperoleh wawasan, teknologi baru, sekaligus membangun jejaring dan kolaborasi.
Sebagai informasi, IRSE 2026 menghadirkan 33 sesi seminar dan diskusi dengan berbagai topik terkait pengembangan sektor ritel. Kegiatan tersebut melibatkan 71 pembicara dari dalam dan luar negeri serta 79 exibitors dan sponsor.
Kegiatan yang diadakan HIPPINDO ini berlangsung selama dua hari di Swissotel PIK, Jakarta, Rabu-Kamis, 26-27 Agustus 2026. Haryanto menargetkan kegiatan tersebut dihadiri sekitar 4.000 peserta dari sektor ritel dan ekosistem pendukungnya.
Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sektor ritel Indonesia agar mampu menghadapi persaingan. Dengan begitu, sektor ritel Indonesia semakin unggul di dalam negeri sekaligus mampu berkembang ke pasar luar negeri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....