Halaqah FUN Soroti Kepemimpinan PBNU jelang Muktamar
- 27 Agt 2026 01:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Forum Ulama Nahdliyin (FUN) menggelar halaqah bertema Refleksi Kepemimpinan PBNU, Rabu, 26 Agustus 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Universitas Darul Ulum, Jombang, Jawa Timur.
Ketua FUN KH Mujib Qulyubi mengatakan, halaqah menjadi bagian dari ikhtiar untuk melakukan refleksi terhadap kondisi Nahdlatul Ulama. Terlebih kegiatan dilakukan menjelang Muktamar NU ke-35.
“Apabila melihat kemungkaran maka ubahlah dengan kekuasaan, jika tidak bisa, maka dengan lisan. Jika tidak bisa, maka selemah-lemahnya iman adalah dengan hati,” ujar KH Mujib lewat keterangannya, Rabu, 26 Agustus 2026.
Ia juga menyinggung pengunduran diri Rois Syuriyah PWNU Gorontalo, dr. KH Burhanudin Umar. Ini menurutnya merupakan bentuk keprihatinan terhadap konflik di kalangan elite NU.
“Karena tidak kuat melihat pertengkaran elit-elit kita, maka mengundurkan diri sebagai Rois Syuriyah. Mudah-mudahan sekecil apapun ikhtiar kita, semoga upaya NU Kultural kita ini dicatat sebagai bagian dari perjuangan tersebut,” ujarnya.
Sementara, Pengasuh Ponpes Wali Salatiga KH Anis Maftuhin meminta agar kepemimpinan PBNU saat ini tidak kembali dipilih. Ia menilai kondisi menjelang Muktamar NU ke-35 semakin memprihatinkan.
Bahkan, menurutnya, sejumlah ulama merasa prihatin melihat dinamika yang terjadi. “PBNU hari ini lemah manajerialnya dan tidak membuat maslahat,” ujarnya.
Kiai Anis menyebut kondisi tersebut berbeda dengan kehidupan warga Nahdliyin di tingkat bawah. Warga tetap menjalankan berbagai tradisi keagamaan.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan di internal NU tidak berubah menjadi konflik. “Ikhtilaf itu harus menjadi rahmat dan perang gagasan,” ujar Kiai Anis.
Pengasuh Ponpes Algebra Bogor KH Khariri Makmun mengatakan, NU harus kembali memperkuat perannya bersama masyarakat. Terutama dalam menghadapi berbagai persoalan kebangsaan.
“NU bersama masyarakat, terutama di hari-hari sulit sekarang ini. Teman-teman di bawah berharap NU fokus melihat kondisi di masyarakat, kemudian didialogkan pada pemerintah,” ujarnya.
Kiai Khariri juga mengkritik sejumlah persoalan yang menurutnya terjadi selama periode kepengurusan PBNU saat ini. “Keprihatinan masyarakat terhadap PBNU sejak pertama dilantik sampai akhir periode, banyak kontroversi yang kita saksikan,” katanya.
Ia juga menyinggung sejumlah persoalan internal organisasi. Termasuk pembekuan program kaderisasi dan belum jelasnya sejumlah surat keputusan kepengurusan menjelang muktamar.
“Sepanjang periode sekarang, ada pembekuan MKNU, PKPNU. Juga dua bulan menjelang muktamar, ratusan SK masih belum jelas,” ujarnya.
Halaqah FUN tersebut diikuti ratusan kiai pengasuh pondok pesantren, tokoh NU, pengurus badan otonom NU. Serta warga Nahdliyin yang hadir di Jombang dalam rangka menyambut Muktamar NU ke-35.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....