Menjelang Muktamar NU, Idrus Marham Serukan Persatuan dan Tolak Black Campaign
- 27 Agt 2026 00:13 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta — Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 jangan ada kampanye hitam (black campaign) maupun cara-cara pragmatis dalam kontestasi kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Pertimbangan Organisasi Ikatan Keluarga Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKPMII) Idrus Marham.
Idrus menilai Muktamar NU ke-35 harus ditempatkan sebagai momentum persatuan sekaligus kebangkitan NU memasuki abad kedua. Bukan sekedar arena perebutan jabatan Ketua Umum PBNU.
“Muktamar harus diarahkan untuk memantapkan arah pergerakan, menata kepemimpinan yang kuat. Serta memastikan NU tetap mampu merawat tradisi Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus menjawab tantangan perkembangan zaman,” ujar Idrus lewat keterangannya, Rabu, 26 Agustus 2026.
Idrus mengatakan kepemimpinan NU ke depan harus mampu mengakomodasi beragam corak pemikiran di lingkungan organisasi. Ia menegaskan setiap kader memiliki hak yang sama untuk mencalonkan diri dalam kontestasi Ketua Umum PBNU.
“Siapa pun boleh mencalonkan diri, termasuk Ketua Umum sekarang ini, Gus Yahya. Kalau masih dikehendaki, ya sangat mungkin,” katanya.
Menurut Idrus, pencalonan kembali Yahya Cholil Staquf merupakan bagian dari proses demokrasi. Dan sepenuhnya harus dikembalikan kepada kehendak para muktamirin.
Namun, Idrus mengingatkan kontestasi harus tetap mengedepankan etika dan menjaga marwah NU. “Mengkritisi boleh, tetapi tidak boleh, lebih-lebih secara emosional, melakukan black campaign,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa persoalan utama Muktamar bukan hanya mengenai siapa yang akan terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Melainkan bagaimana kepemimpinan yang dihasilkan mampu menghadirkan strong leadership sekaligus merangkul berbagai kelompok pemikiran di tubuh NU.
Sementara itu, Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) memberikan surveinya. Yang menempatkan Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli di posisi teratas dengan elektabilitas 43,1 persen.
Posisi berikutnya ditempati KH Abdul Ghaffar Rozin dengan 16,9 persen. Lalu KH Yusuf Chudlori 12,7 persen, dan Prof Nasaruddin Umar 11,5 persen.
Selanjutnya KH Abdul Hakim Mahfudz 6,5 persen, KH Abdussalam Shohib 5,3 persen. Kemudian Ketua Umum PBNU petahana KH Yahya Cholil Staquf 2,6 persen, dan KH Zulfa Mustofa 1,7 persen.
Idrus berharap Muktamar NU ke-35 mampu menghasilkan kepemimpinan yang kuat secara organisatoris. Tetap mampu membawa NU mengambil peran lebih besar dalam pembentukan peradaban sesuai perkembangan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....