Mentan Amran Siapkan Alsintan untuk Petani di 25 Distrik Puncak Papua

  • 26 Agt 2026 10:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mentan Andi Amran Sulaiman menyiapkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk petani di 25 distrik Kabupaten Puncak, Papua Tengah.
  • Bantuan tahap awal mencakup linggis, cangkul, sekop, dan parang
  • Sejumlah bantuan diusulkan dikirim menggunakan pesawat karena akses transportasi di Puncak sangat terbatas
  • Kementan juga mendorong penguatan penyuluh untuk mendampingi petani
  • Pemkab Puncak mengusulkan pengembangan kopi dan peternakan sebagai sektor ekonomi masyarakat

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyiapkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) bagi petani di 25 distrik Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Selain bantuan alsintan, Kementerian Pertanian juga membuka pengembangan kopi Arabika secara bertahap hingga 500 hektare untuk memperkuat ekonomi masyarakat di wilayah pegunungan tersebut.

Dukungan tersebut disampaikan Amran saat menerima audiensi sejumlah kepala daerah di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin 24 Agustus 2026. Bantuan sarana pertanian dinilai penting karena sebagian wilayah Puncak berada di pegunungan dengan akses transportasi yang sangat terbatas.

“Untuk tahap awal kita fokuskan dulu pada alat pertanian karena anggarannya tersedia. Saya minta Ditjen PSP (Prasarana dan Sarana Pertanian) segera melihat kebutuhan alsintannya, dan penyuluh juga kita dorong untuk mendampingi,” kata Amran.

Kebutuhan alat pertanian yang diusulkan antara lain linggis, cangkul, sekop, dan parang. Pemkab Puncak bahkan mengusulkan agar sejumlah alat tersebut dikirim menggunakan dua pesawat sehingga dapat segera menjangkau petani di wilayah Puncak.

Amran meminta jajaran Kementan menindaklanjuti dukungan alsintan yang dapat dikirim ke Pemkab Puncak. Ia juga meminta penyuluh diperkuat agar bantuan yang diterima masyarakat dapat dimanfaatkan secara optimal.

Wakil Bupati Puncak Naftali Akawal mengatakan bantuan tersebut penting karena tingginya biaya transportasi membuat distribusi sarana pertanian ke wilayah Puncak tidak mudah. Untuk berpindah dari satu distrik ke distrik lain, masyarakat dan pemerintah daerah bahkan harus menggunakan pesawat kecil.

Selain kendala akses, masyarakat Puncak juga menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Naftali mengatakan sebagian tanaman masyarakat terdampak kekeringan dan suhu dingin akibat salju.

“Puncak tertinggi di Papua. Dingin di sana luar biasa. Masyarakat sudah menanam, tetapi sekarang banyak yang kering karena es salju turun. Kami datang ke sini membawa harapan karena kebutuhan pertanian sangat penting,” ujarnya.

Menurut Naftali, pertanian menjadi salah satu sektor yang ingin diperkuat pemerintah daerah. Selain tanaman pangan, Puncak memiliki potensi pengembangan kopi dan peternakan.

“Kami butuh untuk di atas itu kopi, peternakan dan pertanian. Sangat penting karena kami masih ketinggalan di Puncak. Kami minta 25 distrik itu harus ada,” kata Naftali.

Peluang pengembangan kopi tersebut mendapat respons dari Amran. Ia meminta Pemkab Puncak memulai pengembangan kopi Arabika secara bertahap dari lahan seluas 100 hektare.

“Untuk kopi Arabika, coba mulai dulu 100 hektare. Kalau mampu dan berhasil, kita tambah sampai 500 hektare,” ucap Amran.

Amran juga meminta Direktorat Jenderal Perkebunan berkoordinasi dengan Pemkab Puncak untuk menindaklanjuti pengembangan kopi tersebut. Menurutnya, pembangunan pertanian Papua perlu terus diperkuat berdasarkan potensi masing-masing wilayah.

“Kami sangat peduli dengan Papua. Anggaran total Rp5 triliun tahun 2025-2026 di seluruh wilayah Papua,” ujar Amran.

Dukungan alsintan, pendampingan penyuluh, dan pengembangan kopi Arabika menjadi langkah Kementan memperkuat pertanian masyarakat Puncak. Pemerintah mendorong potensi pertanian di 25 distrik tersebut semakin produktif dan mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....