TNI 'All Out' Tangani Gempa NTT, 7.912 Personel dan 27 Alutsista Dikerahkan

  • 26 Agt 2026 10:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dengan tambahan tersebut, total bantuan yang telah disalurkan TNI selama penanganan gempa NTT mencapai 825,585 ton.
  • Hingga Senin, 24 Agustus 2026, sebanyak 7.912 personel TNI dikerahkan dan sebanyak 825,585 ton total bantuan logistik disalurkan TNI.
  • Untuk menunjang operasi tersebut, TNI mengerahkan 27 alat utama sistem senjata (alutsista). Kekuatan tersebut terdiri dari 21 pesawat, lima Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), dan satu kapal ADRI

RRI.CO.ID, Jakarta - Percepatan penanganan dampak gempa bumi NTT, terus dilakukan oleh TNI bersama pemerintah dan sejumlah instansi terkait. Hingga Senin, 24 Agustus 2026, sebanyak 7.912 personel TNI dikerahkan dan sebanyak 825,585 ton total bantuan logistik disalurkan TNI.

Pengerahan ribuan personel TNI tersebut, mencakup berbagai kebutuhan penanganan bencana di lapangan. Dukungan TNI itu, diberikan untuk membantu masyarakat sekaligus memperkuat proses distribusi bantuan dan kegiatan kemanusiaan di wilayah terdampak gempa.

"Untuk menunjang operasi tersebut, TNI mengerahkan 27 alat utama sistem senjata (alutsista). Kekuatan tersebut terdiri dari 21 pesawat, lima Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), dan satu kapal ADRI," kata keterangan resmi Puspen TNI dalam laman resminya, di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.

Puspen TNI menjelaskan, puluhan alutsista itu digunakan untuk mendukung mobilitas personel. Serta, mempercepat pengiriman bantuan menuju wilayah yang terdampak bencana NTT.

Keberadaan armada udara dan laut TNI, juga menjadi bagian penting dalam mendukung operasi kemanusiaan di wilayah NTT. Mengingat, NTT memiliki kondisi geografis cukup luas.

"Memasuki hari kesepuluh penanganan bencana, TNI terus menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak. Pada periode tersebut, sebanyak 21,761 ton bantuan kembali didistribusikan ke masyarakat yang membutuhkan," ucap Puspen TNI.

Dengan tambahan tersebut, total bantuan yang telah disalurkan TNI selama penanganan gempa NTT mencapai 825,585 ton. Jumlah tersebut merupakan akumulasi bantuan yang dikirimkan TNI selama operasi penanganan bencana berlangsung.

Pengerahan personel dan alutsista dilakukan untuk memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat di wilayah terdampak. Distribusi logistik menjadi salah satu fokus utama karena kebutuhan masyarakat terus berubah mengikuti kondisi di lapangan.

Selain melakukan distribusi bantuan, TNI juga terus menjalankan koordinasi dengan berbagai lembaga yang terlibat dalam penanganan bencana. Koordinasi dilakukan bersama pemerintah daerah, BNPB, Basarnas, serta instansi terkait lainnya.

Sinergi lintas lembaga tersebut diperlukan agar proses penanganan dapat berjalan secara terkoordinasi. Dengan demikian, bantuan yang tersedia diharapkan dapat segera diterima masyarakat yang paling membutuhkan.

BMKG Catat 7.492 Gempa Susulan NTT

Aktivitas gempa bumi susulan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus berlangsung, sampai hari ini, Rabu, 26 Agustus 2026. Sampai pukul 05.00 WIB, Rabu pagi, BMKG mencatat, sebanyak 7.492 gempa susulan telah terjadi di NTT.

Aktivitas ribuan gempa bumi susulan itu, setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan Flores pada 15 Agustus 2026. Data BMKG menunjukkan, gempa bumi susulan tersebut memiliki rentang magnitudo yang cukup beragam, mulai dari 1,0 hingga 6,2.

"Dari ribuan aktivitas gempa tersebut, sebanyak 33 kejadian tercatat memiliki magnitudo di atas 5. Sementara, 143 gempa bumi susulan dilaporkan dirasakan oleh masyarakat NTT," kata BMKG dalam keterangan persnya, Rabu, 26 Agustus 2026.

Jumlah aktivitas gempa susulan tersebut terus bertambah dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, BMKG mencatat 6.397 gempa susulan hingga 24 Agustus 2026.

Sehingga, angka terbaru menunjukkan masih tingginya aktivitas seismik di kawasan terdampak. Rangkaian gempa susulan, juga menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian masyarakat memilih bertahan di lokasi pengungsian.

"Getaran yang masih terjadi menimbulkan kekhawatiran warga untuk kembali ke rumah. Terutama pada bangunan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan," ucap BMKG.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....