Kemen PPPA dan Mitra Bersama Salurkan 30 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT
- 23 Agt 2026 20:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Arifah menegaskan kementerian dan lembaga bergerak bersama sebagai satu kesatuan dalam penanganan bencana.
- Bantuan dipersiapkan untuk dikirim menggunakan pesawat Hercules menuju NTT.
- Kemen PPPA juga mempersiapkan layanan Pos Sahabat Anak dan Perempuan atau Pos SAPA.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian PPPA menerima secara simbolis sekitar 30 ton bantuan untuk masyarakat terdampak gempa Nusa Tenggara Timur. Bantuan tersebut selanjutnya disiapkan untuk memenuhi kebutuhan perempuan dan anak di sejumlah wilayah terdampak.
Penyerahan secara simbolis berlangsung di Lanud Halim Perdanakusuma bersama mitra pembangunan, dunia usaha, serta organisasi kemasyarakatan. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari gerakan bersama untuk meringankan beban masyarakat selama masa penanganan bencana.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengatakan seluruh pihak akan bergerak sebagai satu kesatuan ketika berada di wilayah bencana. Menurutnya, setiap kementerian dan lembaga hadir membawa tanggung jawab bersama untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Di lapangan tidak ada Kemen PPPA, tidak ada Kemensos, tidak ada BNPB. Semua menjadi keluarga besar Indonesia, bersama-sama di sana memberikan sapaan dan layanan terbaik,” ujar Arifah kepada wartawan di Lanud Halim Perdanakusuma, Minggu, 23 Agustus 2026.
Arifah menegaskan pernyataan tersebut bukan berarti kementerian dan lembaga tidak hadir dalam penanganan bencana. Ia ingin menekankan bahwa seluruh unsur pemerintah bekerja bersama tanpa berjalan sendiri-sendiri.
Semangat kebersamaan itu juga terlihat dari cepatnya bantuan terkumpul melalui dukungan berbagai mitra. Dalam waktu dua hari, sekitar 30 ton bantuan berhasil dihimpun dengan fokus kebutuhan perempuan dan anak.
“Alhamdulillah, dalam waktu dua hari kami sudah menerima bantuan dari teman-teman sebanyak 30 ton. Bantuan ini lebih banyak spesifik untuk kebutuhan perempuan dan anak,” katanya.
Bantuan berasal dari berbagai mitra pembangunan, dunia usaha, serta organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Kemen PPPA kemudian mengoordinasikan penyalurannya agar kebutuhan kelompok rentan dapat menjangkau wilayah terdampak.
| Baca juga: Gempa Magnitudo 2,3 Landa Manggarai NTT |

Setelah diterima secara simbolis, bantuan tersebut dipersiapkan untuk diberangkatkan menuju NTT menggunakan pesawat Hercules. Pengiriman mendapat dukungan BNPB dan Lanud Halim Perdanakusuma agar logistik dapat segera bergerak.
Arifah mengatakan dirinya bersama tim juga akan menuju NTT untuk menemui langsung masyarakat terdampak. Kunjungan tersebut sekaligus membawa bantuan yang telah dipercayakan para mitra kepada Kemen PPPA.
“Kami hadir ke NTT untuk menyapa dan menyampaikan bantuan yang telah diamanahkan kepada kami. Kami juga mempersiapkan pembentukan layanan Pos SAPA bagi perempuan dan anak,” ucapnya.
Pos Sahabat Anak dan Perempuan atau Pos SAPA disiapkan sebagai ruang pelayanan bagi kelompok rentan selama penanganan bencana. Kehadirannya diharapkan memperkuat pendampingan terhadap perempuan dan anak yang masih berada di lokasi pengungsian.
Selain kebutuhan logistik, pemerintah turut memberi perhatian terhadap pelayanan kesehatan bagi perempuan dan anak. Arifah mengatakan koordinasi telah dilakukan dengan Menteri Kesehatan setelah menerima informasi mengenai kondisi darurat di lapangan.
Menurutnya, tenaga kesehatan telah berupaya maksimal memberikan penanganan meski sempat menghadapi situasi genting dan fasilitas terbatas. Pelayanan kemudian diperkuat dengan keberadaan rumah sakit tenda untuk mendukung kebutuhan medis masyarakat terdampak.
“Pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin meskipun memang belum sempurna. Kami terus berupaya memberikan yang terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
Kondisi geografis sejumlah wilayah juga menjadi tantangan dalam memastikan bantuan dapat diterima secara merata. Beberapa lokasi yang sulit ditembus melalui perjalanan darat harus dijangkau menggunakan dukungan transportasi udara.
Arifah mengatakan koordinasi terus diperkuat agar keterbatasan akses tidak membuat masyarakat kehilangan pelayanan. Mitra yang telah bergerak di lapangan juga dihubungkan untuk memperluas jangkauan bantuan ke berbagai titik.
“Pemerintah ingin sekali memberikan layanan secepatnya, tetapi kendala yang dihadapi memang tidak mudah. Percayalah, kami akan memberikan yang terbaik,” katanya.
Sejumlah organisasi juga telah memberikan pendampingan psikologis bagi masyarakat sebelum penyerahan simbolis bantuan dilakukan. Gerakan tersebut melengkapi kebutuhan fisik sekaligus membantu warga menghadapi dampak psikologis setelah gempa.
Melalui kolaborasi itu, penanganan perempuan dan anak tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan selama pengungsian. Layanan kesehatan, perlindungan, serta pemulihan psikologis turut menjadi bagian dari proses pemulihan masyarakat terdampak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....