Indonesia-Tiongkok Perkuat Kerja Sama AI dan Transformasi Digital

  • 23 Agt 2026 15:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi melakukan pertemuan bilateral di Jakarta pada Sabtu, 22 Agustus 2026, untuk membahas penguatan kemitraan di bidang teknologi masa depan.
  • Kerja sama Indonesia-Tiongkok mencakup pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital sebagai fokus utama dari kedua negara.
  • Selain teknologi, kedua pihak juga membahas kolaborasi dalam infrastruktur, energi hijau, pengentasan kemiskinan, dan revitalisasi pedesaan.

RRI.CO.ID, Jakarta – Indonesia dan Tiongkok memperkuat kolaborasi di bidang teknologi masa depan seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AS) dan transformasi digital. Ini terungkap pada pertemuan Ketua Dewan Ekonomi (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi.

Selain itu, kedua pihak membahas kerja sama infrastruktur, energi hijau, pengentasan kemiskinan, dan revitalisasi pedesaan. Pertemuan antara kedua pejabat antarnegara itu berlangsung di Jakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Luhut mengatakan kepercayaan menjadi fondasi penting dalam memperluas kerja sama Indonesia dan Tiongkok. Menurut dia, ini dibangun melalui pertemuan dan dialog yang berlangsung secara berkelanjutan.

"Hubungan kemitraan antara kedua negara ini ibarat jalinan persahabatan,” ucap Luhut. “Semakin sering bertemu dan berdialog, semakin kuat rasa saling percaya di antara kami.”

Luhut juga menekankan kerja sama Indonesia-Tiongkok harus memberikan hasil yang konkret bagi masyarakat. Antara lain melalui penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, dan peningkatan taraf hidup.

"Kerja sama kedua negara tidak boleh berhenti sebatas proyek megah semata,” ucapnya. “Hasilnya harus konkret: membuka lapangan kerja, mentransfer teknologi, dan menaikkan taraf hidup masyarakat kita.”

Sebagai tindak lanjut, DEN bersama National Development and Reform Commission (NDRC) Tiongkok berencana menyusun peta jalan strategis jangka panjang. Ini mencakup keberlanjutan infrastruktur seperti kereta cepat, pengembangan energi hijau di Kalimantan Utara, pengentasan kemiskinan, dan revitalisasi pedesaan.

“Melalui kerangka kerja sama ini, kami berencana menyusun peta jalan sejumlah agenda strategis,” ujarnya. “Mulai dari keberlanjutan infrastruktur seperti kereta cepat, pengembangan energi hijau di Kalimantan Utara, hingga pembelajaran dari pengalaman Tiongkok.”

Selain infrastruktur dan energi, kedua pihak membuka ruang kolaborasi di sektor teknologi masa depan. Bidang tersebut mencakup AI, transformasi digital atau GovTech, serta pengembangan TSTH2 untuk riset biodiversitas dan teknologi kesehatan.

Kolaborasi strategis Indonesia-Tiongkok diharapkan dapat menjadi model percontohan sinergi antarnegara Global South. “Tiongkok memiliki kapital, teknologi, dan kapasitas industri, sedangkan Indonesia memiliki sumber daya, biodiversitas, populasi muda, serta pasar yang besar,” ujarnya.

Pada akhir pertemuan, Luhut mengutip pepatah Tiongkok yang mencerminkan semangat kemitraan kedua negara. Menurut dia, kesamaan visi dan cita-cita Indonesia dan Tiongkok akan terus membuka kolaborasi yang semakin luas.

"Ada pepatah Tiongkok yang sangat saya sukai. zhì hé zhě, bù yǐ shānhǎi wéi yuǎn, “ ucapnya. “Artinya bagi mereka yang sehati dan sejalan, jarak sejauh gunung dan lautan bukanlah halangan.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....