Catatan Peristiwa Karhutla Indonesia, dari Sumatra hingga Kalimantan
- 23 Agt 2026 08:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden Prabowo Subianto melakukan peninjauan langsung ke lokasi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
- Kebakaran hutan dan lahan adalah fenomena berulang yang terjadi setiap musim kemarau, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
- Karhutla berdampak pada lingkungan, kesehatan, sosial, dan ekonomi masyarakat, serta dapat menimbulkan kabut asap yang melintasi batas negara.
RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, Sabtu, 22 Agustus 2026. Peninjauan tersebut kembali mengingatkan panjangnya sejarah karhutla yang berulang setiap musim kemarau di Indonesia.
Karhutla terutama terjadi di wilayah Sumatra dan Kalimantan dengan dampak lingkungan, kesehatan, sosial, serta ekonomi. Fenomena tersebut juga pernah menimbulkan kabut asap hingga melintasi batas negara dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Mengutip dari laman BNPB, salah satu peristiwa terbesar terjadi pada 1997 hingga 1998 ketika El Nino memicu kemarau panjang. Kebakaran meluas terutama di lahan gambut Sumatra dan Kalimantan dengan luas area terbakar mencapai jutaan hektare.
Karhutla kembali terjadi dalam skala besar pada 2006, 2013, dan 2015 di berbagai wilayah. Kebakaran 2015 menjadi salah satu peristiwa terparah dengan luas area terbakar sekitar 2,6 juta hektare.
Dampaknya terasa pada kesehatan masyarakat, transportasi, pendidikan, kegiatan ekonomi, serta kondisi lingkungan di berbagai daerah. Kabut asap bahkan menyebar ke sejumlah negara tetangga sehingga karhutla berkembang menjadi persoalan lingkungan lintas batas.
Berbagai kajian menunjukkan aktivitas manusia menjadi salah satu faktor utama pemicu kebakaran hutan dan lahan. Pembukaan lahan menggunakan api masih dilakukan karena dianggap lebih murah dan cepat oleh sebagian pihak.
Risiko kebakaran meningkat ketika musim kemarau tiba dan kondisi vegetasi menjadi kering sehingga api mudah menyebar. Kerentanan semakin tinggi pada lahan gambut yang mengalami pengeringan akibat pembangunan kanal dan perubahan tata air.
Api pada lahan gambut dapat membara di bawah permukaan tanah sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit. Degradasi hutan akibat pembalakan liar dan konversi lahan juga meningkatkan kerentanan wilayah terhadap kebakaran.
Di sisi lain, El Nino dapat memperpanjang musim kering dan memperbesar potensi penyebaran api. Namun, faktor iklim bukan satu-satunya penyebab karena aktivitas manusia tetap berperan dalam banyak kejadian.
Karhutla menimbulkan dampak multidimensi, mulai dari kerusakan ekosistem hingga meningkatnya risiko gangguan kesehatan masyarakat. Kebakaran juga melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar yang berkontribusi terhadap perubahan iklim global.
Setelah sejumlah kebakaran besar, pemerintah memperkuat berbagai langkah pencegahan, pemantauan, serta penanganan karhutla. Upaya tersebut mencakup penguatan regulasi, penegakan hukum, restorasi gambut, dan pengembangan sistem deteksi dini.
Pemerintah juga menjalankan patroli terpadu serta pemberdayaan masyarakat melalui berbagai program pencegahan kebakaran. Di tingkat regional, Indonesia turut bekerja sama dengan negara-negara ASEAN menangani persoalan kabut asap lintas batas.
Meski begitu, penanganan karhutla masih menghadapi tantangan berupa penegakan hukum dan ketergantungan masyarakat terhadap pembakaran. Karena itu, pencegahan perlu berjalan bersama dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan lahan.
Alternatif pembukaan lahan tanpa bakar perlu diperluas agar masyarakat memiliki pilihan pengelolaan lahan yang lebih aman. Pembelajaran dari sejarah karhutla menjadi penting agar kebakaran tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....