Dampak Gempa NTT: 44.946 Rumah Rusak dan Ribuan Sekolah Terdampak
- 21 Agt 2026 21:26 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 44.946 Rumah Rusak: Kerusakan infrastruktur meluas di NTT, terutama di wilayah Manggarai Raya, dengan prioritas perbaikan pada fasilitas publik.
- 1.378 Sekolah Terdampak: Sebanyak 502 sekolah rusak berat akibat gempa, sehingga menghentikan aktivitas belajar mengajar normal bagi ribuan siswa.
- Pemulihan Darurat: Pemerintah mendirikan tenda kelas darurat, menerapkan kurikulum fleksibel, serta memberikan layanan trauma healing bagi para siswa.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kerusakan infrastruktur akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin meluas dan menyentuh berbagai sektor penting kehidupan masyarakat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan total 44.946 unit rumah mengalami kerusakan berat, sedang, hingga ringan akibat guncangan tersebut.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan, Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Manggarai tercatat sebagai wilayah dengan dampak kerusakan bangunan terbanyak. Data ini masih bersifat dinamis dan dapat berubah seiring proses pendataan yang masih terus dilakukan tim lapangan.
"Pemerintah akan memprioritaskan pemulihan infrastruktur publik yang vital agar layanan kepada masyarakat bisa kembali berjalan," ujar Berton Suar Pelita Panjaitan dalam keterangan pers di kanal YouTube BNPB, Jumat, 21 Agustus 2026. Fokus perbaikan ini mencakup fasilitas kesehatan dan akses jalan yang terputus.
Tidak hanya rumah warga, sektor pendidikan di NTT juga turut mengalami kelumpuhan akibat bencana alam ini. Tercatat sebanyak 1.378 satuan pendidikan terdampak dengan tingkat kerusakan yang cukup bervariasi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 502 sekolah di antaranya dilaporkan mengalami kerusakan dalam kategori berat. Kondisi ini secara otomatis menghentikan kegiatan belajar mengajar bagi ribuan siswa di wilayah tersebut.
Pemerintah melalui kementerian terkait mulai mengambil langkah cepat untuk mendirikan tenda-tenda kelas darurat. Langkah ini diambil untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan meskipun siswa harus belajar di tenda.
Fleksibilitas kurikulum darurat juga mulai diterapkan agar beban psikologis siswa tidak terlalu berat di tengah musibah. Dukungan psikososial atau trauma healing menjadi bagian penting dari pemulihan kondisi mental siswa dan guru.
"Kami berkomitmen memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi meski situasi sedang dalam kondisi tanggap darurat bencana," ucap Berton menanggapi isu pendidikan. Selain bantuan fisik, pemulihan mental menjadi fokus utama pemerintah saat ini.
BNPB memastikan bahwa proses pemulihan infrastruktur publik akan terus diprioritaskan demi kestabilan wilayah. Koordinasi lintas sektor terus dilakukan untuk mempercepat penyelesaian perbaikan bangunan-bangunan sekolah yang hancur.
Harapannya, perbaikan infrastruktur sekolah dapat selesai dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Pemerintah ingin agar suasana pembelajaran yang aman dan nyaman dapat segera kembali dirasakan oleh generasi muda NTT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....