Menperin Tekankan Pemimpin BUMN Harus Mampu Baca Perubahan, Jaga Relevansi Bisnis

  • 21 Agt 2026 15:26 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa pemimpin BUMN harus memiliki kemampuan membaca dan mengantisipasi perubahan global untuk menjaga relevansi bisnis.
  • Kemampuan adaptasi terhadap perubahan global diperlukan untuk memastikan daya saing perusahaan BUMN tetap terjaga dalam jangka panjang di pasar internasional.
  • Pembekalan Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) Batch 1 Tahun 2026 diselenggarakan di Kodiklat TNI Serpong pada 19 Agustus 2026 sebagai upaya persiapan kepemimpinan BUMN.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya kemampuan pemimpin Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membaca perubahan global. Kemampuan tersebut diperlukan untuk memastikan bisnis perusahaan tetap relevan dan berdaya saing dalam jangka panjang.

Agus menyampaikan hal tersebut saat memberikan pembekalan Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) Pegawai BUMN Batch 1 Tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Kodiklat TNI, Serpong, Rabu, 19 Agustus 2026.

“Ketika saudara kembali ke perusahaan masing-masing, ada pertanyaan fundamental yang harus dijawab. Apakah bisnis perusahaan kita hari ini masih akan relevan lima atau sepuluh tahun dari sekarang?,” kata Agus.

Besarnya aset, jumlah karyawan, kekuatan modal, maupun keberhasilan perusahaan masa lalu tidak otomatis menjamin keberlangsungan serta daya saing mendatang. Perusahaan besar dapat kehilangan posisi ketika terlambat membaca perubahan, mempertahankan asumsi lama, dan lambat melakukan transformasi.

BUMN memiliki posisi strategis dalam perekonomian karena mengelola berbagai sektor penting nasional. Sektor tersebut meliputi infrastruktur, energi, pembiayaan, logistik, mineral, telekomunikasi, konstruksi, dan pangan.

“Dalam dunia yang berubah cepat, size is not security. Besarnya perusahaan bukan jaminan keamanan,” ujar Agus.

Perubahan geopolitik dan geoekonomi dapat memengaruhi harga energi, jalur perdagangan, rantai pasok, teknologi, hingga model bisnis perusahaan. Perubahan suku bunga, nilai tukar, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta transisi energi juga dapat mengubah struktur bisnis.

Regulasi global turut memengaruhi akses perusahaan terhadap pasar, pembiayaan, dan mitra internasional. Ketentuan tersebut mencakup emisi, ketertelusuran, keberlanjutan, standar ketenagakerjaan, antisuap, keamanan siber, dan perlindungan data.

“Yang membuat tantangan semakin berat adalah risiko tersebut tidak datang satu per satu. Perusahaan dapat menghadapi pelemahan nilai tukar, kenaikan harga energi dan suku bunga,” ujar Agus.

Menghadapi kondisi tersebut, pengalaman masa lalu dinilai tidak lagi cukup untuk menghadapi kompleksitas bisnis. Agus menekankan pola business as usual tidak memadai karena para pemimpin perlu mengantisipasi risiko yang saling berinteraksi dan memperbesar dampaknya.

Dalam konteks industrialisasi nasional, Agus mengingatkan BUMN tidak cukup hanya berperan sebagai pemilik aset atau pelaksana proyek. Perusahaan negara perlu membangun kapabilitas nasional melalui penguatan rantai nilai, hilirisasi, pembukaan pasar, pengembangan teknologi dan talenta, serta keterlibatan IKM.

“Industrialisasi adalah proses membangun kemampuan bangsa, mulai dari mengolah sumber daya, menguasai teknologi, dan mengembangkan sumber daya manusia. Proses tersebut juga mencakup penguatan rantai pasok, penciptaan merek, hingga kemampuan menembus pasar global,” ucap Agus.

Hilirisasi sumber daya alam, lanjut Agus, harus ditempatkan sebagai titik awal dan bukan titik akhir pembangunan industri. Indonesia perlu meningkatkan pengolahan sumber daya di dalam negeri sekaligus menjadikan pasar domestik sebagai basis pengembangan industri nasional.

Menperin menyebut fundamental industri nasional saat ini cukup kuat. Pada triwulan II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32 persen.

Industri pengolahan nonmigas memberikan kontribusi 16,83 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional atau sekitar Rp1.102,88 triliun. Realisasi investasi sektor tersebut mencapai Rp199,48 triliun atau menyumbang 38,89 persen terhadap total investasi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....