Menbud Fadli Sebut Kemajemukan Budaya jadi Kekuatan Persatuan Indonesia
- 21 Agt 2026 08:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tema 'Negara Madani dalam Konfigurasi Kemajemukan Budaya' dinilai relevan dengan kondisi Indonesia yang memiliki keragaman budaya, bahasa, dan etnis.
- Kemajemukan Indonesia dipandang sebagai kekuatan untuk memperkuat persatuan, dengan Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
- Madani Malindo menjadi ruang dialog Indonesia-Malaysia untuk memperkuat kebudayaan, kemajemukan, serta kerja sama kedua negara.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menilai tema perjamuan delegasi Madani Malindo relevan dengan arah penguatan kebudayaan Indonesia saat ini. Menurutnya, tema 'Negara Madani Dalam Konfigurasi Kemajemukan Budaya' menggambarkan kondisi Indonesia yang kaya perbedaan, namun tetap menjaga persatuan
Ia mengatakan Kementerian Kebudayaan masih berusia hampir dua tahun setelah dibentuk sebagai kementerian tersendiri oleh Presiden Prabowo Subianto. Kebudayaan sebelumnya kerap berada dalam rumpun pendidikan atau pariwisata, meski memiliki kekuatan strategis bagi bangsa Indonesia sendiri.
"Indonesia memiliki kemajemukan luar biasa, dengan 1.340 etnis dan 718 bahasa tersebar dari Sabang hingga Merauke. Keragaman tersebut bukan ancaman, melainkan kekuatan yang dapat memperkuat Indonesia sebagai negara kokoh dan berdaulat," ujarnya saat menghadiri Jamuan Makan Malam Penyambutan Majelis Cendikiawan Madani Malaysia-Indonesia, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Kamis malam, 20 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, kekayaan budaya Indonesia juga terlihat dari keberadaan sekitar 28 aksara Nusantara yang berkembang dengan karakter berbeda. Keragaman bahasa, etnis, dan aksara menjadi bagian penting identitas bangsa yang perlu dirawat bersama melalui kebijakan kebudayaan berkelanjutan.
Ia menyebut keberagaman Indonesia membentang dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote, sekaligus menjadi kekayaan sosial budaya yang besar. Menurutnya, perbedaan tersebut tidak menghalangi Indonesia bertahan selama 81 tahun sebagai negara yang tetap utuh dan terus berkembang.
"Kita memiliki ikatan sejarah, budaya, agama, serta Pancasila yang menjadi fondasi dalam menjaga persatuan bangsa Indonesia. Pancasila menjadi filosofi dasar negara, sekaligus landasan yang menyatukan masyarakat dalam kehidupan demokrasi Indonesia," ujarnya.
Ia menilai pengalaman Indonesia berbeda dengan Uni Soviet dan Yugoslavia yang terpecah menjadi sejumlah negara setelah puluhan tahun. Indonesia justru mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama, karena masyarakat memiliki fondasi kebangsaan dari sejarah, budaya, dan Pancasila.
Ia berharap dialog Madani Malindo memperkuat pertukaran gagasan tentang kebudayaan, kemajemukan, dan kehidupan bernegara antara Malaysia dan Indonesia. Menurutnya, kerja sama tersebut dapat membuka ruang baru bagi kebudayaan sebagai kekuatan strategis untuk menjaga persatuan Asia Tenggara.
Cendikiawan Muslim, Din Syamsuddin menyebut forum Madani Malindo menjadi ruang memperkuat hubungan budaya Indonesia dan Malaysia. Ia mengatakan Malindo Madani kedua digelar di Jakarta setelah pertemuan perdana berlangsung di Kuala Lumpur tahun sebelumnya.
Menurutnya, pertemuan pertama menghasilkan kesepakatan untuk melanjutkan pembahasan mengenai hubungan kedua negara melalui dialog yang lebih luas. Ia menilai Jakarta memiliki makna khusus dalam perjalanan Malindo Madani karena deklarasi Madani pernah berlangsung di Masjid Istiqlal.
Ia menilai Jakarta memiliki makna khusus dalam perjalanan Malindo Madani karena deklarasi Madani pernah berlangsung di Masjid Istiqlal. "Madani Malindo yang kedua berlangsung di Jakarta, setelah sebelumnya pertemuan pertama berlangsung di Kuala Lumpur tahun lalu," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....