Ruang Damai Bahas Makna Merdeka dalam Keberagaman di Era Digital
- 18 Agt 2026 00:04 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia menjadi momentum untuk kembali memaknai kemerdekaan dan kebebasan di tengah pesatnya disrupsi teknologi.
- Tantangan terhadap kedaulatan masyarakat pada era digital disebut tidak lagi hanya berupa ancaman fisik.
- Algoritma media sosial yang menciptakan ruang gema atau echo chamber juga berpotensi memperkuat polarisasi sosial.
RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia menjadi momentum untuk kembali memaknai kemerdekaan dan kebebasan di tengah pesatnya disrupsi teknologi. Hal itu menjadi salah satu bahasan dalam webinar nasional Ruang Damai bertajuk “Menjadi Indonesia: Merdeka, Berbeda dan Tetap Bersama”, Senin 17 Agustus 2026.
Webinar yang digelar melalui platform Zoom Meeting tersebut menghadirkan perspektif akademisi dan tokoh kepemudaan lintas generasi. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Ruang Damai Exhibition 2026 untuk menandai lima tahun kiprah Ruang Damai dalam mendorong toleransi dan perdamaian di Indonesia.
Diskusi menghadirkan Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto dan Ketua Umum Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) Agustina. Webinar tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari lintas iman, aktivis hingga akademisi.
Algoritma media sosial yang menciptakan ruang gema atau echo chamber juga berpotensi memperkuat polarisasi sosial.
Peserta berasal dari sejumlah perguruan tinggi, seperti UI, Universitas Padjadjaran (Unpad), UIN, dan Universitas Sumatera Utara (USU), dengan keterwakilan wilayah dari Aceh hingga Maluku.
Direktur Eksekutif Ruang Damai, Zainal Abidin dalam sambutannya memperkenalkan gagasan mengenai pentingnya “kemerdekaan kognitif” (cognitive freedom) bagi masyarakat. Khususnya, di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, tantangan terhadap kedaulatan masyarakat pada era digital tidak lagi hanya berupa ancaman fisik. Algoritma media sosial yang menciptakan ruang gema atau echo chamber juga berpotensi memperkuat polarisasi sosial.
“Kemerdekaan sejati di era modern adalah ketika perbedaan identitas tidak lagi dijadikan komoditas digital untuk memecah belah, melainkan sebagai algoritma sosial yang memperkaya inovasi bangsa. Kita harus bertransformasi dari sekadar merawat slogan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ menjadi penggerak modal sosial aktif (active social capital),” ujar Zainal.
Menurutnya, modal sosial tersebut dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari krisis iklim global hingga transformasi ekonomi digital.
Zainal juga menekankan pentingnya inklusivitas digital bagi komunitas adat dan penyandang disabilitas. Menurutnya, perkembangan teknologi tidak boleh mengorbankan identitas kultural masyarakat lokal.
Sementara itu, Prof. Semiarto Aji Purwanto membedah proses historis “Menjadi Indonesia” yang menurutnya terus berkembang secara dinamis sejak Sumpah Pemuda 1928, Reformasi 1998. Hingga memasuki transisi kultural di era kecerdasan buatan.
Dari perspektif antropologi, ia menilai toleransi tidak dapat dibangun hanya dengan sikap pasif. Toleransi membutuhkan keterlibatan dan interaksi aktif antarmasyarakat dengan latar belakang identitas yang beragam.
“Kemerdekaan harus berarti ruang untuk menjadi diri sendiri. Tentu untuk mewujudkan toleransi dengan hadir secara penuh dalam interaksi, perjumpaan, dan kerja bersama lintas identitas,” kata Prof. Semiarto.
Dari perspektif generasi Z, Agustina menawarkan pendekatan spiritualitas kontemporer untuk menghadapi derasnya arus informasi di ruang digital. Ketua Umum PP HIKMAHBUDHI itu memperkenalkan konsep Brahmavihara dalam ajaran Buddha sebagai salah satu jangkar moral bagi generasi muda di ruang digital.
Konsep tersebut mencakup nilai Metta atau cinta kasih, Karuna atau welas asih, Mudita atau simpati, serta Upekkha atau keseimbangan batin. Nilai-nilai itu dinilai dapat menjadi landasan bagi generasi muda dalam menghadapi provokasi dan berbagai informasi yang beredar di dunia maya.
Diskusi tersebut pada akhirnya merumuskan pandangan bahwa kemerdekaan Indonesia di masa kini merupakan proyek sosial yang masih terus berjalan (ongoing project). Ruang Damai menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan ruang perjumpaan yang inklusif bagi masyarakat.
Perbedaan diharapkan tidak berhenti sebagai identitas yang dipertentangkan. Tetapi dapat menjadi dasar untuk membangun kerja bersama yang kolaboratif dan emansipatif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....