Ketika Pelajar Turut Membawa Kabar Kemerdekaan ke Berbagai Daerah
- 17 Agt 2026 15:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pelajar menjadi kurir penyebar kabar Proklamasi ke berbagai daerah yang belum mengetahui Indonesia telah merdeka.
- Gatot Iskandar, yang saat itu berusia 15 tahun, ditugaskan membawa kabar Proklamasi ke Sumatra bersama Umar dari Kediri.
- Pelajar juga menjalankan misi rahasia, seperti membawa pesan dan mengamati pergerakan Belanda, termasuk Siti Fatimah di Kuningan.
RRI.CO.ID, Jakarta – Perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya melibatkan tentara dan orang dewasa. Sejumlah pelajar ikut mengambil risiko sebagai pembawa pesan dan penyebar kabar kemerdekaan.
Pada masa revolusi 1945-1949, sejumlah pemuda ditugaskan membawa berita Proklamasi ke berbagai daerah. Mereka menyasar masyarakat di pelosok yang belum mengetahui Indonesia telah merdeka.
Sekitar dua bulan setelah Proklamasi, kabar kemerdekaan belum tersebar secara luas ke berbagai wilayah. Kepala Kepolisian Negara Raden Said Soekanto kemudian mencari pemuda untuk menjalankan misi tersebut.
Para pemuda itu menjalankan tugas sebagai kurir berita kemerdekaan. Mereka membawa kabar Proklamasi menuju daerah yang sulit dijangkau dari pusat pemerintahan.
Melansir berbagai sumber, salah satu kurir yang tercatat dalam sejarah adalah Gatot Iskandar dari Kediri. Saat menerima tugas tersebut, Gatot masih berusia 15 tahun dan duduk di kelas tiga SMP.
Gatot mendapat tugas menyebarkan kabar Proklamasi ke Pulau Sumatra. Ia berangkat bersama Umar, pemuda seusianya yang juga berasal dari Kediri.
Perjalanan mereka tentu tidak berlangsung dalam situasi yang aman. Sebagai kurir, mereka harus melewati berbagai wilayah ketika kondisi politik dan keamanan masih belum stabil.
Tugas anak muda pada masa revolusi juga tidak terbatas pada membawa berita. Sebagian lainnya menjalankan tugas sebagai kurir pesan hingga membantu mengamati keadaan di sekitar wilayah pendudukan.
Salah satunya adalah Siti Fatimah dari Kuningan, Jawa Barat. Ia bergabung dengan Tentara Republik Indonesia Pelajar atau TRIP ketika berusia 15 tahun pada 1947.
Fatimah menjalankan tugas membawa pesan untuk para pejuang di wilayah pendudukan Belanda. Ia menyembunyikan pesan tersebut di balik kaus kaki agar tidak mudah ditemukan saat melewati pemeriksaan.
Ia juga harus mengamati pergerakan tentara Belanda di sekitar wilayah Kuningan. Untuk menghindari kecurigaan, Fatimah berpakaian seperti anak kampung dan ikut bersama para pedagang.
Kisah para pelajar tersebut menunjukkan bahwa usia bukan satu-satunya ukuran dalam perjuangan masa revolusi. Mereka menjalankan tugas yang membutuhkan keberanian meski masih berada di usia sekolah.
Kisah Gatot, Umar, dan para pelajar lainnya kemudian tercatat dalam buku Kurir-Kurir Kemerdekaan. Buku terbitan Balai Pustaka tersebut memuat pengalaman para pemuda pembawa berita Proklamasi pada 1945.
Peran mereka mungkin tidak sebesar pasukan yang bertempur di garis depan. Namun, perjalanan para kurir muda membantu membawa kabar kemerdekaan kepada masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Dari bangku sekolah hingga jalur gerilya, para pelajar ikut mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan. Kisah mereka menjadi bagian dari sejarah perjuangan yang tidak selalu muncul dalam cerita tentang perang. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....