Lomba Panjat Pinang dan Jejak Kolonial Belanda Apa Hubungannya? Ini Jawabannya

  • 17 Agt 2026 10:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Setiap perayaan HUT RI pada 17 Agustus, lomba panjat pinang hampir selalu menjadi salah satu perlombaan yang paling ditunggu masyarakat.
  • Simak sejarah panjang lomba panjat pinang yang selalu memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus dalam artikel ini.
  • Mengutip Good News From Indonesia merujuk buku karya Zaenuddin H.M., panjat pinang merupakan permainan memanjat batang pohon pinang yang dibuat licin dengan pelumas.

RRI.CO.ID, Jakarta - Setiap perayaan HUT RI pada 17 Agustus, lomba panjat pinang hampir selalu menjadi salah satu perlombaan yang paling ditunggu masyarakat. Di balik kemeriahan lomba panjat pinang, ternyata menyimpan perjalanan sejarah panjang yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat di masa kolonial Belanda.

Simak sejarah panjang lomba panjat pinang yang selalu memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus dalam artikel ini. Lomba Panjat pinang bukan sekadar perlombaan untuk mendapatkan hadiah di atas batang pohon yang licin.

Permainan ini juga membutuhkan kekompakan, strategi, keberanian, serta kemampuan peserta untuk bekerja sama agar dapat mencapai puncak. Biasanya, sebuah batang pinang yang tinggi dilumuri oli atau pelumas sehingga permukaannya menjadi sangat licin.

Para peserta, kemudian harus saling membantu dengan membentuk susunan tubuh agar dapat memanjat. Hingga, mencapai berbagai hadiah yang digantung di bagian paling atas.

Sejarah Lomba Panjat Pinang

Mengutip Good News From Indonesia merujuk buku karya Zaenuddin H.M., panjat pinang merupakan permainan memanjat batang pohon pinang yang dibuat licin dengan pelumas. Hadiah yang ditempatkan di bagian atas, menjadi daya tarik utama bagi peserta untuk menaklukkan batang tersebut.

Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, permainan semacam ini disebut pernah digelar dalam pesta, hajatan, dan berbagai acara yang diselenggarakan masyarakat kolonial. Namun, orang-orang yang menjadi peserta justru berasal dari kalangan pribumi.

Hadiah yang diperebutkan biasanya berupa berbagai kebutuhan maupun barang yang bernilai bagi masyarakat pada masa itu. Beras, gula, roti, pakaian, hingga barang lainnya dapat ditempatkan di bagian atas batang sebagai hadiah bagi peserta yang berhasil mencapai puncak.

Sementara itu, masyarakat Belanda yang menyelenggarakan acara tersebut lebih banyak berperan sebagai penonton. Perlombaan tersebut, menjadi tontonan dan hiburan dalam suasana pesta yang berlangsung di kalangan kolonial.

Kondisi tersebut membuat panjat pinang kemudian memiliki sisi sejarah yang cukup kontroversial. Cerita mengenai asal-usul panjat pinang ternyata tidak berhenti pada masa kolonial Belanda.

Sejumlah sejarawan dan sumber sejarah juga memiliki pandangan berbeda mengenai siapa yang pertama kali mengenalkan permainan tersebut. Mengutip National Geographic Indonesia, permainan memanjat tiang yang dibuat licin lebih dikenal dalam tradisi masyarakat Tionghoa di Nusantara.

Permainan tersebut dilakukan dalam perayaan tertentu dengan hadiah yang ditempatkan di bagian atas tiang. Artinya, panjat pinang tidak serta-merta dapat disebut sebagai permainan yang diciptakan oleh pemerintah atau masyarakat Belanda.

Ada kemungkinan, permainan tersebut telah berkembang dalam tradisi masyarakat di Nusantara. Sebelum, kemudian diadopsi dan digunakan dalam berbagai acara pada masa kolonial Belanda.

Perbedaan paling mencolok terletak pada konteks dan siapa yang memainkan permainan tersebut. Dalam berbagai acara kolonial, masyarakat pribumi menjadi peserta yang berusaha mendapatkan hadiah, sedangkan orang-orang Belanda menikmati perlombaan sebagai tontonan.

Karena itu, sebagian pandangan sejarah menyebut pemerintah Belanda lebih tepat dipahami sebagai pihak yang mengadopsi. Sekaligus, memanfaatkan permainan tersebut sebagai hiburan.

Setelah Indonesia merdeka, masyarakat secara perlahan memberikan makna baru terhadap permainan tersebut. Panjat pinang kemudian berkembang menjadi bagian dari tradisi perayaan kemerdekaan dan dimainkan di berbagai daerah setiap bulan Agustus.

Perubahan makna tersebut membuat panjat pinang tidak lagi dipandang semata-mata sebagai tontonan. Permainan ini kemudian diasosiasikan dengan semangat perjuangan, kerja sama, pantang menyerah, serta gotong royong.

Nilai kerja sama terlihat jelas dari cara peserta menaklukkan batang pinang. Satu orang hampir tidak mungkin mencapai puncak sendirian sehingga peserta harus menyusun strategi dan saling menopang untuk mencapai tujuan bersama.

Di situlah panjat pinang kemudian memperoleh makna baru dalam konteks Indonesia merdeka. Hadiah di puncak bukan hanya menjadi simbol kemenangan individu, tetapi juga menggambarkan tujuan yang dapat dicapai melalui kerja sama.

Transformasi tersebut menjadi salah satu alasan panjat pinang tetap bertahan hingga sekarang. Setiap 17 Agustus, permainan ini kembali hadir di tengah masyarakat, mulai dari lingkungan desa dan kampung hingga kawasan perkotaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....