Warga Flores Masih Trauma, Gempa Bumi Susulan di NTT Masih Terasa
- 17 Agt 2026 10:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Masyarakat di sejumlah wilayah Pulau Flores, NTT, masih berada dalam kondisi trauma. Tepatnya, tetelah gempa bumi Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
- Meski kekuatan gempa susulan dalam beberapa hari ini disebut lebih kecil, warga NTT masih merasakan getaran. Pernyataan tegas itu, diungkapkan oleh anggota DPR RI Fraksi PDIP Dapil NTT, Andreas Hugo Pareira.
- Situasi di masyarakat di Pulau Flores rata-rata masih trauma dengan guncangan yang sangat besar kemarin.
RRI.CO.ID, Jakarta - Masyarakat di sejumlah wilayah Pulau Flores, NTT, masih berada dalam kondisi trauma. Tepatnya, tetelah gempa bumi Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Meski kekuatan gempa susulan dalam beberapa hari ini disebut lebih kecil, warga NTT masih merasakan getaran. Pernyataan tegas itu, diungkapkan oleh anggota DPR RI Fraksi PDIP Dapil NTT, Andreas Hugo Pareira.
“Situasi di masyarakat di Pulau Flores rata-rata masih trauma dengan guncangan yang sangat besar kemarin. Sampai saat ini dari informasi saudara-saudara dan teman-teman di sana pun masih terjadi getaran meskipun lebih kecil,” kata Andreas saat dihubungi wartawan, Senin, 17 Agustus 2026.
Kondisi tersebut, Wakil Ketua Komisi XIII DPR ini mengatakan, membuat masyarakat belum sepenuhnya berani kembali menjalankan aktivitas seperti biasa. Warga masih mengantisipasi, kemungkinan terjadinya gempa susulan yang dapat kembali menimbulkan guncangan dan kerusakan.
“Sehingga masyarakat kebanyakan tetap dalam keadaan siaga khawatir terjadi gempa susulan,” ucap Andreas. Kewaspadaan tersebut, menjadi bagian dari respons masyarakat setelah gempa utama menimbulkan dampak di sejumlah wilayah Flores.
Selain kondisi psikologis warga, jumlah korban juga masih menjadi perhatian. Andreas mengatakan, data korban meninggal maupun korban luka masih dapat berubah seiring proses pendataan dan penanganan di lapangan.
“Korban jiwa dan luka-luka berat dan ringan memang berubah terus karena luasnya wilayah dampak dari gempa ini. Namun hari ini nampaknya sudah mulai mereda,” ucap Andreas.
Gempa tersebut memberikan dampak cukup luas sehingga proses penanganan membutuhkan koordinasi dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, masyarakat, organisasi sosial, serta berbagai kelompok lainnya mulai bergerak memberikan bantuan kepada warga terdampak.
Andreas mengatakan, dirinya memperoleh informasi mengenai kondisi gempa sejak pagi hari ketika menerima laporan dari wilayah Nagekeo. Informasi tersebut, kemudian ditindaklanjuti dengan koordinasi untuk mengerahkan bantuan tanggap darurat bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Kemarin dari pagi sekitar jam 06.00 WIB saya ditelepon ketua DPC PDI Perjuangan Nagekeo dalam keadaan panik. Melaporkan situasi gempa tersebut,” ujar Andreas.
Setelah menerima laporan tersebut, koordinasi dilakukan dengan pihak yang menangani respons kebencanaan untuk menentukan bentuk bantuan yang dapat segera diberikan. Menurut Andreas, bantuan kemudian diarahkan ke sejumlah kabupaten terdampak.
“Setelah berkonsultasi dengan DPP Bidang Penanganan Bencana. Partai segera menginstruksikan bantuan tanggap darurat untuk masyarakat sehingga di setiap kabupaten dibangunlah dapur-dapur umum,” kata Andreas.
Namun, Andreas menilai, kebutuhan masyarakat terdampak masih sangat besar sehingga bantuan yang tersedia belum sepenuhnya mencukupi. Ia mengatakan, masyarakat sendiri ikut mengambil peran dengan melakukan gotong royong dan membantu warga lain yang membutuhkan.
“Namun ini tentu jauh dari cukup. Masyarakat pun swadaya untuk saling membantu dan pemda kabupaten, provinsi pun segera turun memberikan bantuan,” ujar Andreas.
Gempa Bumi Magnitudo 5,8 Guncang Wilayah Ende NTT Pagi Ini
BMKG melaporkan, gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,8 mengguncang wilayah Ende, NTT. Gempa bumi tersebut, terjadi pada pukul 07.46 WIB, hari ini, Senin, 17 Agustus 2026.
"Pusat gempa berada di laut, 40 km timur laut Nagekeo. 17 Agustus 2026, pukuk 07.46.43 WIB," kata BMKG dalam laman resminya, Senin, 17 Agustus 2026.
BMKG menjelaskan, kedalaman gempa bumi 5,8 Magnitudo Senin pagi itu sedalam 10 km. "Titik lokasi gempa bumi 8,38 LS, 121,52 BT," ucap BMKG.
Dalam Skala MMI, BMKG menungkapkan, masyarakat di Sumba Timur merasakan Skala MMI III. Masyarakat yang tinggal di Ende, merasakan getaran gempa bumi Skala MMI III-IV.
"Masyarakat di Kabupaten Nagekeo merasakan getaran gempa Skala MMI III-IV. Sedangakan, masyarakat di Kabupaten Manggarai Skala MMI III-IV," ujar BMKG.
Gempa bumi Magnitudo 5,8 yang mengguncang Ende, BMKG menuturkan, tidak berpotensi terjadi tsubami. "Hati-hati terhadap gempabumi susulan yang mungkin terjadi," kata BMKG.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....