Mengenal 'Flores Back-Arc Thrust', Sesar Aktif di Balik Gempa Magnitudo 7,7 di NTT

  • 17 Agt 2026 10:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BMKG menyebut, gempa NTT tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Busur Belakang Flores. Simak penjelasan rinci tentang Flores Back-Arc Thrust dalam artikel ini.
  • Flores Back-Arc Thrust merupakan sistem sesar yang berkaitan dengan proses tektonik di kawasan busur belakang. Aktivitas tektonik tersebut terbentuk dalam sistem geologi yang kompleks akibat interaksi lempeng dan proses subduksi
  • Data historis penelitian tersebut, mencatat puluhan kejadian gempa bermagnitudo lebih dari 6,0 pada periode 1900-2022, dan sebagian di antaranya diikuti tsunami.

RRI.CO.ID, Jakarta - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58 WIB. Gempa tersebut, tidak hanya memicu guncangan di sejumlah wilayah, tetapi juga membuat BMKG sempat mengeluarkan peringatan tsunami.

BMKG menyebut, gempa NTT tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Busur Belakang Flores. Simak penjelasan rinci tentang Flores Back-Arc Thrust dalam artikel ini.

Berdasarkan pemutakhiran parameter BMKG, pusat gempa bumi Magnitudo 7,7 itu berada di laut pada koordinat 8,41 derajat LS dan 121,39 derajat BT. Lokasi tersebut berada sekitar 30 kilometer sebelah timur laut Nagekeo, NTT.

BMKG menjelaskan, struktur geologi tersebut merupakan salah satu sistem sesar aktif yang berada di wilayah utara Pulau Flores. Hal itu, menjadi salah satu sumber aktivitas kegempaan di kawasan Nusa Tenggara.

Besarnya kekuatan gempa NTT, membuat BMKG sempat mengeluarkan peringatan tsunami bagi wilayah pesisir yang berpotensi terdampak. Namun, setelah melakukan pemantauan terhadap kondisi muka air laut, BMKG kemudian mengakhiri peringatan tersebut pada pukul 07.30 WIB.

“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan. (Terutama) masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama dalam keterangan resmi, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Penjelasan Flores Back-Arc Thrust

Flores Back-Arc Thrust merupakan sistem sesar yang berkaitan dengan proses tektonik di kawasan busur belakang. Aktivitas tektonik tersebut terbentuk dalam sistem geologi yang kompleks akibat interaksi lempeng dan proses subduksi di wilayah Indonesia bagian timur.

Sesar Busur Belakang Flores membentang di kawasan utara Pulau Flores. Struktur tersebut, menjadi bagian dari sistem tektonik yang memiliki hubungan dengan sejumlah sumber gempa di wilayah Bali, NTB, hingga NTT.

Dalam jurnal "Numerical Modelling of the Potential Hazard Due to Future Flores Back Arc Thrust Earthquake Generated Tsunami", Wahyudi dan sejumlah peneliti menjelaskan bahwa sistem Flores Back-Arc Thrust membentang dari wilayah utara Bali ke arah timur. Struktur tersebut, juga disebut memiliki keterkaitan dengan sistem sesar Wetar di kawasan Laut Banda bagian barat.

Riwayat kegempaan di kawasan Flores Back-Arc Thrust menunjukkan bahwa wilayah tersebut bukan kawasan yang asing dengan gempa kuat. Data historis penelitian tersebut, mencatat puluhan kejadian gempa bermagnitudo lebih dari 6,0 pada periode 1900-2022, dan sebagian di antaranya diikuti tsunami.

Salah satu peristiwa paling dikenal adalah gempa Flores pada 1992. Gempa tersebut, menimbulkan tsunami besar dan menjadi salah satu bencana gempa paling mematikan dalam sejarah Indonesia.

Bencana Flores 1992 memperlihatkan, bahwa ancaman dari kawasan tersebut bukan hanya berasal dari guncangan tanah. Pergerakan dasar laut dan kemungkinan terjadinya longsoran bawah laut dapat memperbesar dampak tsunami ketika gempa kuat terjadi di wilayah laut.

Karena itu, aktivitas Flores Back-Arc Thrust menjadi perhatian penting dalam pemantauan kegempaan di NTT. Setiap gempa besar yang terjadi di kawasan tersebut, perlu dianalisis dengan cepat untuk mengetahui potensi dampaknya terhadap wilayah pesisir.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto mengatakan, aktivitas tektonik di kawasan tersebut memiliki sejarah pelepasan energi besar. “Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores,” ujar Wijayanto.

Gempa terbaru tersebut kembali mengingatkan bahwa kawasan NTT memiliki sejumlah sumber gempa aktif. Kondisi geografis dan tektoniknya membuat kesiapsiagaan masyarakat, sistem peringatan dini, serta pemantauan aktivitas seismik menjadi sangat penting.

Berakhirnya peringatan tsunami bukan berarti masyarakat dapat mengabaikan potensi gempa susulan. Masyarakat di wilayah terdampak tetap perlu mengikuti informasi resmi BMKG dan arahan pemerintah daerah.

Peristiwa gempa NTT 2026 juga menjadi pengingat pentingnya memahami karakteristik sumber gempa di Indonesia. Dengan mengetahui Flores Back-Arc Thrust merupakan salah satu sesar aktif, masyarakat dapat lebih memahami mengapa kawasan Flores dan sekitarnya membutuhkan kesiapsiagaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....