DPR Nilai Transisi Energi Jaga Ketahanan Energi Indonesia

  • 17 Agt 2026 03:39 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menilai gejolak harga minyak dunia tidak akan mengancam ketahanan energi Indonesia karena adanya strategi antisipasi.
  • Percepatan transisi energi menuju kendaraan listrik menjadi langkah strategis untuk menghadapi tekanan harga energi global dan mengurangi ketergantungan pada minyak bumi.
  • Pernyataan ini disampaikan pasca mengikuti Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI yang berlangsung pada 14 Agustus 2026 di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menilai gejolak harga minyak dunia tidak akan membelenggu ketahanan energi Indonesia. Percepatan transisi energi menuju kendaraan listrik dinilai menjadi langkah antisipasi menghadapi tekanan harga energi global.

Bambang menyampaikan pandangan tersebut setelah mengikuti Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI. Agenda tersebut berlangsung di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026.

Eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan dinamika jalur perdagangan Selat Hormuz turut memengaruhi pergerakan harga minyak mentah internasional. Bambang menyebut harga minyak akan menuju asumsi Indonesian Crude Price atau ICP sebesar USD75 per barel.

“Kita lihat dari range-nya itu kan tadi sudah Presiden umumkan, (harga minyak) kita akan menuju ke 75 (dolar per) barel. Kita melihat sebetulnya secara umum rantai pasok dunia itu sudah kembali normal,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, harga minyak dunia yang terlalu tinggi justru dapat mempercepat transisi energi. Perubahan tersebut dapat mendorong peralihan penggunaan bahan bakar minyak menuju kendaraan listrik.

“Tetapi ingat bahwa harga minyak dunia yang terlalu tinggi, ini justru akan mempercepat transisi energi. Mempercepat yang namanya peralihan dari penggunaan BBM kepada kendaraan listrik (electric vehicle),” katanya.

Bambang menjelaskan kenaikan harga minyak fosil pada akhirnya dapat menciptakan perimbangan alami melalui perubahan pilihan masyarakat. Menurutnya, masyarakat akan mempertimbangkan pilihan yang lebih murah ketika harga minyak mentah terlalu tinggi.

“Jadi menurut saya semua akan ada perimbangannya, semua akan ada substitusinya. Jika kemudian harga crude terlalu tinggi, masyarakat sendiri dan dunia itu akan melirik kepada mana yang akan lebih murah,” ujarnya.

Bambang mengapresiasi langkah pemerintah mempercepat ekosistem kendaraan listrik nasional. Menurutnya, percepatan tersebut menjadi upaya menghadapi persoalan energi akibat ketergantungan terhadap minyak impor.

“Presiden sudah memberikan program bagaimana percepatan untuk kendaraan listrik, baik itu motor maupun kendaraan mobil. Saya pikir Presiden sudah sangat paham terhadap persoalan geopolitik ini, bagaimana persoalan energi itu tidak membelenggu Indonesia,” ucap Bambang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....