Wamendikdasmen Fajar: Isi Kemerdekaan dengan Pena, Kuasai Ilmu dan Teknologi
- 13 Agt 2026 12:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq mengunjungi Pulau Belakang Padang, Kota Batam untuk melihat langsung kegiatan pendidikan di wilayah terdepan Indonesia.
- Dalam kunjungan tersebut, Wamen Fajar mengikuti kegiatan Senam Anak Indonesia Hebat bersama anak-anak PAUD dari beberapa satuan pendidikan di pulau tersebut.
- Kegiatan senam menjadi bagian dari sosialisasi tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat kepada anak-anak usia dini di daerah perbatasan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengunjungi Pulau Belakang Padang, Kota Batam. Disana Wamen Fajar melihat langsung kegiatan pendidikan sekaligus menyapa anak-anak di wilayah terdepan Indonesia itu
Dalam kunjungan tersebut, Wamen Fajar mengikuti kegiatan Senam Anak Indonesia Hebat bersama anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kegiatan tersebut diikuti sejumlah satuan PAUD di Pulau Belakang Padang dan menjadi bagian sosialisasi tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat.
“Kami dari Kemendikdasmen melihat kegiatan anak-anak PAUD. Namanya Senam Anak Indonesia Hebat dalam rangka menyosialisasikan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat,” ujar Wamen Fajar saat memberikan keterangan, Rabu, 12 Agustus 2026.
Setelah kegiatan senam, Ia juga melepas lomba gerak jalan yang diikuti peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari perayaan bulan kemerdekaan sekaligus momentum untuk menumbuhkan semangat kebersamaan di kalangan peserta didik.
“Bukan soal lombanya. Menang kalah itu biasa, tetapi soal kebersamaannya dan semangat membangunnya,” kata Fajar.
Menurutnya, Pulau Belakang Padang memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan Singapura. Karena itu, pendidikan menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang mampu menjaga dan mengisi kemerdekaan.
“Pulau Belakang Padang ini adalah teras depannya Indonesia karena berhadapan langsung dengan negara Singapura,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, Fajar juga mengajak peserta didik untuk memaknai kemerdekaan dengan terus belajar dan menguasai ilmu pengetahuan.
Ia mengingatkan, perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada masa lalu dilakukan para pahlawan dengan berbagai cara, termasuk menggunakan bambu runcing. Sementara generasi saat ini memiliki cara berbeda untuk mengisi kemerdekaan.
“Kalau dulu pahlawan menggunakan bambu runcing untuk mengusir penjajah, hari ini adik-adik untuk membuktikan kemerdekaan adalah dengan mengangkat pena. Artinya, kita sungguh-sungguh belajar dan menguasai ilmu pengetahuan,” tutur Fajar.
Usai mengunjungi Pulau Belakang Padang, Wamen Fajar melanjutkan kunjungan ke SMA Negeri 20 Kota Batam. Sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah mitra penyelenggara Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di Provinsi Kepulauan Riau.
Dalam kunjungannya, Wamen Fajar berdialog dengan sejumlah siswa PJJ, di antaranya Nuroya dan Syafira. Keduanya menceritakan pengalaman mengikuti pembelajaran melalui PJJ yang dinilai lebih fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan kondisi serta waktu siswa.
“Rasanya seru banget, apalagi belajarnya asyik, fleksibel, dan gurunya baik, penjelasannya jelas dan diberikan secara detail. Jadwal belajarnya diberikan secara jelas, kita tidak belajar setiap hari, tetapi sesuai waktu kita,” ujar Syafira.
“Saya mengikuti PJJ karena faktor ekonomi dan harus membantu keluarga. Orangtua berjualan es cendol,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, Wamen Fajar juga berdialog dengan jurnalis pelajar SMA Negeri 20 Kota Batam, Alya dan Firli. Salah satu pertanyaan yang disampaikan berkaitan dengan penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) secara bijak dalam pembelajaran.
Wamen Fajar mengatakan bahwa AI merupakan perkembangan teknologi yang sulit dihindari. Namun, penggunaannya dalam pendidikan harus ditempatkan sebagai alat bantu yang mendukung proses belajar, bukan menggantikan peran manusia maupun guru.
“Yang paling penting adalah menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan menggantikan peran manusia atau guru. Kalau kita bisa bijak menggunakan AI, kita bisa cepat mendapatkan ilmu pengetahuan,” kata Fajar.
Kemampuan berpikir kritis, kata Wamen Fajar, menjadi semakin penting di tengah semakin luasnya penggunaan AI. Peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk memeriksa dan menilai kembali informasi yang diperoleh.
Hal itu dikarenakan tidak semua informasi yang dihasilkan AI dapat diterima begitu saja. “Meski AI penting, kita harus punya kemampuan berpikir kritis," ujarnya.
"Karena ada juga informasi AI yang seakan-akan itu benar, namun sebenarnya tidak. Yang kedua, kita punya sensitivitas atau kepekaan nurani. AI tidak memiliki hal itu,” ucapnya.
Selain kemampuan memanfaatkan teknologi, Fajar menekankan pentingnya penguatan sains, teknologi, engineering, arts, dan mathematics (STEAM) sejak usia dini. Menurutnya, penguasaan STEAM merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir berbasis data dan pengetahuan.
“Bapak Presiden mendorong agar STEAM menjadi prioritas. Salah satu kelemahan kita adalah berpikir berbasis data dan ilmiah," katanya.
"Oleh sebab itu, pemerintah sekarang memprioritaskan STEAM sejak usia dini. Itulah cara kita berupaya membangun masyarakat berdasarkan pengetahuan,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....