Challenge Hafalan Al-Qur’an Berhadiah Miras Dinilai Langgar Etika

  • 13 Agt 2026 04:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Polemik challenge hafalan Al-Qur’an dengan hadiah minuman keras (miras) dinilai melampaui batas etika komunikasi
  • konten yang melibatkan simbol keagamaan tidak sepatutnya diperlakukan sebagai bahan candaan.

RRI.CO.ID, Jakarta: Polemik challenge hafalan Al-Qur’an dengan hadiah minuman keras (miras) dinilai melampaui batas etika komunikasi di Indonesia. Penggunaan simbol dan aktivitas keagamaan dalam kampanye tersebut dinilai bukan lagi persoalan kreativitas.

"Ini menyangkut kepatutan dan penghormatan terhadap nilai yang hidup di masyarakat. Dalam konteks di negara kita ini melampaui batas etika, karena ada simbol dan aktivitas keagamaan," kata Dekan Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif (FKDK) Universitas Budi Luhur, Rocky Prasetyo Jati, saat berbincang dengan Pro3 RRI, Rabu, 12 Agustus 2026.

Menurutnya, konten yang melibatkan simbol keagamaan tidak sepatutnya diperlakukan sebagai bahan candaan. Lalu juga bukan sekadar strategi untuk mendapatkan perhatian publik.

"Di balik sebuah kreativitas promosi terdapat tenaga profesional. Tenaga ini seharusnya memahami konsekuensi dari ide maupun konsep kampanye yang dibuat," katanya.

Ia menjelaskan, strategi komunikasi pemasaran saat ini tidak hanya mengandalkan iklan konvensional. Penyebaran informasi dari orang ke orang juga menjadi bagian penting dalam membangun perhatian dan keterlibatan publik terhadap produk.

Menurutnya, tingginya viralitas sebuah konten tidak serta-merta menunjukkan keberhasilan sebuah kampanye. Jika viralitas justru muncul karena kontroversi, kampanye tersebut tetap tidak dapat dinilai tepat.

“Kalau kaitannya dengan engagement itu viral, mungkin di benak kreator ini berhasil. Tapi ini campaign yang tidak tepat karena tidak ada sensitivitas,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya riset dan pengembangan sebelum sebuah kampanye komunikasi dipublikasikan. Riset pun tidak hanya diperlukan untuk mengetahui tren yang sedang ramai di masyarakat.

"Ini juga untuk memahami nilai-nilai fundamental yang menjadi pijakan dalam kehidupan berbangsa. Pancasila dan nilai budaya masyarakat harus menjadi pertimbangan utama dalam merancang komunikasi publik," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....