Pengangguran Muda Tinggi, Kesenjangan Keterampilan Jadi Tantangan

  • 12 Agt 2026 03:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pengangguran usia produktif masih tinggi karena dominasi sektor informal dan ketidaksesuaian pilihan pekerjaan generasi muda.
  • Kemnaker mendorong pemagangan, pelatihan vokasi, penguatan sistem pasar kerja, dan kewirausahaan.
  • BPS mencatat TPT Mei 2026 sebesar 4,65%, sementara pengangguran muda usia 15–24 tahun mencapai sekitar 16% hingga 17%.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pengangguran usia produktif masih tinggi karena dominasi sektor informal dan ketidaksesuaian pilihan pekerjaan generasi muda. Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan, Kemnaker RI Anwar Sanusi menyebut kondisi tersebut menjadi persoalan ketenagakerjaan.

Anwar menilai pemerintah perlu memetakan industri yang memiliki peluang besar menyerap angkatan kerja muda berkelanjutan. Ia juga menyoroti sektor pertanian yang menghadapi fenomena penuaan petani sehingga kurang diminati generasi muda.

“Kalau dari sisi kami melihat kenapa angka produktif masih cukup tinggi, karena memang ada beberapa aspek,” kata Anwar dalam perbicangan bersama Pro3 RRI, Selasa, 11 Agustus 2026.

Anwar menjelaskan kesenjangan keterampilan dengan kebutuhan pekerjaan menjadi persoalan penting dalam pasar kerja nasional. Pemerintah dinilai perlu melakukan intervensi melalui pemagangan dan pelatihan vokasi untuk memperkecil kesenjangan kompetensi.

Skill gap, ini tantangan yang menurut kita pemerintah sesuatu yang harus kita lakukan intervensi bagaimana mendekatkan atau mengurangi skill gap tersebut,” tuturnya.

Pemerintah juga memperkuat sistem pasar kerja nasional agar kebutuhan tenaga kerja tersambung dengan pencari kerja secara akurat. Sistem tersebut diharapkan menyediakan informasi pekerjaan yang mutakhir, valid, serta sesuai kompetensi pencari kerja.

“Kita aktif labor market system (sistem pasar tenaga kerja), jadi sistem pasar kerja yang lebih aktif dengan kita tentunya memperkuat sistem pasar kerja nasional,” paparnya.

Anwar mendorong kewirausahaan sebagai alternatif generasi muda untuk mandiri sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan baru. Pemerintah pusat dan daerah juga perlu berkolaborasi dengan berbagai kementerian memperluas kesempatan kerja serta meningkatkan kompetensi generasi muda.

“Teruslah membangun istilahnya kompetensi. Satu kompetensi tidak cukup untuk kita mendapatkan peluang lebih banyak di dalam pasar kerja,” pesannya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia kembali menurun dalam periode terbaru. Namun, tingkat pengangguran kelompok usia muda justru meningkat signifikan dibandingkan kondisi keseluruhan nasional.

Kelompok usia 15–24 tahun mendominasi pengangguran muda dengan TPT sekitar 16% hingga 17% secara nasional. Sebagian besar pengangguran kelompok tersebut berasal dari lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS mencatat 1,03 juta pengangguran berasal dari lulusan perguruan tinggi. Kelompok tersebut mencakup lulusan D-IV, S1, S2, hingga S3 yang masuk dalam pengangguran terbuka.

Jumlah tersebut setara 14,31 persen dari total 7,22 juta penganggur nasional berdasarkan data BPS. BPS mencatat TPT Indonesia pada Mei 2026 mencapai 4,65% atau sekitar 7,22 juta orang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....