DPR Ajak Masyarakat Waspadai Hoaks Soal Demonstrasi
- 10 Agt 2026 18:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Andreas menilai penyebaran konten semacam itu berpotensi membentuk persepsi yang keliru di tengah masyarakat
- Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira mengingatkan masyarakat untuk lebih cermat menyikapi beredarnya video aksi demonstrasi di media sosial
- Sejumlah video disebut merupakan dokumentasi peristiwa lama yang kembali beredar seolah-olah menggambarkan situasi terkini
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira mengingatkan masyarakat untuk lebih cermat menyikapi beredarnya video aksi demonstrasi di media sosial. Sejumlah video disebut merupakan dokumentasi peristiwa lama yang kembali beredar seolah-olah menggambarkan situasi terkini.
Andreas menilai penyebaran konten semacam itu berpotensi membentuk persepsi yang keliru di tengah masyarakat. Karena itu, ia mendorong pemerintah dan pihak terkait menelusuri sumber serta pola penyebarannya.
"Ini persis seperti kejadian pada Agustus tahun lalu yang berujung adanya aksi besar-besaran akibat isu yang dilempar ke publik. Isu yang muncul tahun lalu itu patut diduga juga ada yang menggerakkan, dan sama seperti sekarang, dikeluarkan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan,” kata Andreas, Senin, 10 Agustus 2026.
Menurutnya, berbagai informasi yang belum terverifikasi perlu ditangani secara hati-hati agar tidak berkembang menjadi keresahan. Ia juga meminta penelusuran terhadap penyebaran konten dilakukan secara jelas sehingga masyarakat memperoleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Andreas menegaskan penyampaian aspirasi merupakan hak setiap warga negara dalam kehidupan demokrasi. Namun, ia mengingatkan ruang demokrasi tidak seharusnya dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi menyesatkan atau menciptakan perpecahan.
"Menyampaikan aspirasi baik secara langsung maupun di media sosial tentunya itu hak setiap warga negara. Tapi kalau hal tersebut dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk tujuan tertentu pula, itu yang sangat bahaya," ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa sebelumnya. Ini dengan tetap menjaga ketertiban dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Menurut Andreas, maraknya konten lama yang kembali beredar juga berpotensi mengalihkan perhatian masyarakat dari berbagai isu publik lainnya. Termasuk di antaranya pengawasan terhadap pelaksanaan program-program pemerintah.
Karena itu, masyarakat didorong meningkatkan kebiasaan melakukan verifikasi sebelum mempercayai maupun membagikan informasi di media sosial. "Pastikan menerima informasi dari sumber-sumber akurat, dan kita harus terus cross check ulang berkali-kali kabar yang ada di media sosial agar tidak teperdaya isu yang dimaksudkan untuk memecah belah bangsa," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....