Menag Ajak Bersihkan Rumah Ibadah tanpa Sekat Agama

  • 10 Agt 2026 18:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Agama mendorong gerakan pembersihan rumah ibadah yang melibatkan tokoh dari berbagai agama sebagai bentuk kebersamaan.
  • Masjid Istiqlal menjadi contoh nyata keterlibatan tokoh Katolik dan Protestan dalam gerakan pembersihan lintas agama.
  • Gerakan kebersihan tidak hanya untuk masjid, melainkan juga mencakup gereja, pura, dan rumah ibadah lainnya untuk memperkuat toleransi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong pembersihan rumah ibadah lintas agama. Ia mencontohkan keterlibatan tokoh Katolik dan Protestan dalam membersihkan Masjid Istiqlal.

Nasaruddin meminta gerakan kebersihan tidak hanya menyasar masjid dalam pelaksanaannya. Ia juga mengajak masyarakat membersihkan gereja, pura, dan rumah ibadah lainnya.

“Di mana pun juga berada kita, saya mohon jangan hanya masjid yang kita bersihkan, tapi juga gereja, pura dan sebagainya. Sekaligus membersihkan rumah ibadah itu tidak mesti seagama ya,” ujar Nasaruddin saat menyampaikan sambutan dalam Kick Off Gerakan Bersih-Bersih Masjid (Geber Mas) di Masjid Fatahillah Balaikota Pemprov DKI Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.

Nasaruddin mencontohkan pembersihan Masjid Istiqlal yang melibatkan tokoh dari Katolik dan Protestan. Mereka membersihkan menara Istiqlal menggunakan keterampilan pemanjatan karena bagian tersebut sulit dibersihkan secara biasa.

“Kemarin kita juga mengawali pembersihan Istiqlal itu lintas agama. Yang manjat-manjat membersihkan menara Istiqlal itu pemanjat tebing dari Katolik, Protestan karena mereka yang punya keahlian untuk itu,” kata Nasaruddin.

Menurut Nasaruddin, keterampilan teknis dapat menentukan keterlibatan seseorang dalam pembersihan rumah ibadah. Ia mencontohkan penggunaan kemampuan pemanjat tebing untuk membersihkan bagian menara Masjid Istiqlal.

“Karena kalau kita mau bersihkan biasa enggak mungkin. Jadi pakai keterampilan pendakian gunung bergelantungan untuk mengecat yang belang-belang,” ucap Nasaruddin.

Nasaruddin menjelaskan rumah ibadah memiliki fungsi penting sebagai ruang perjumpaan manusia dengan Tuhan. Karena itu, ia menilai kebersihan rumah ibadah perlu menjadi perhatian bersama.

“Rumah ibadah itu sangat penting, kenapa menjadi penting rumah ibadah itu? Karena meeting point antara hamba dengan Tuhan,” ujar Nasaruddin.

Sementara itu, Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, mendorong Geber Mas menjadi gerakan berkelanjutan. Pemerintah daerah mengarahkan keberlanjutan tersebut melalui kolaborasi pengurus masjid, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Ali menilai kebersihan masjid perlu terhubung dengan pengelolaan sampah dari sumber. Integrasi tersebut diarahkan untuk membentuk kebiasaan hidup bersih sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan Jakarta.

“Saya berharap kegiatan Geber Mas dapat dipadukan dengan gerakan pilah sampah dari sumber. Yang terus diupayakan di seluruh wilayah DKI Jakarta,” ujar Ali saat membacakan sambutan Gubernur DKI Jakarta.

Ali menjelaskan pemilahan sampah perlu mengikuti jenisnya dalam kegiatan bersih-bersih masjid. Sampah tersebut kemudian dapat diolah atau diserahkan ke tempat pengolahan sampah 3R.

“Bersih-bersih masjid juga harus dibarengi dengan pemilahan sampah sesuai jenisnya. Untuk kemudian diolah maupun diserahkan ke tempat pengolahan sampah 3R, Reduce, Reuse, dan Recycle,” kata Ali.

Ali turut menekankan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dalam pelaksanaan gerakan tersebut. Ia juga meminta masyarakat menggunakan air dan energi secara lebih bijak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....