Dama Kara Foundation Berdayakan Penyandang Disabilitas lewat Industri Fesyen
- 09 Agt 2026 16:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Dama Kara Foundation melaksanakan program pelatihan seni dan fesyen untuk memberdayakan penyandang disabilitas dan meningkatkan kemandirian ekonomi mereka.
- Pendiri yayasan Nurdini Prihastiti mengidentifikasi bahwa penyandang disabilitas masih menghadapi keterbatasan akses untuk mengembangkan potensi mereka.
- Program ini menghubungkan karya seni penyandang disabilitas dengan industri fesyen untuk membuka peluang berkarya dan penghasilan yang berkelanjutan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Dama Kara Foundation memberdayakan penyandang disabilitas melalui pelatihan seni dan fesyen. Hal ini sebagai upaya membuka ruang berkarya sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi mereka.
Pendiri Dama Kara Foundation, Nurdini Prihastiti, mengatakan penyandang disabilitas masih menghadapi keterbatasan akses untuk mengembangkan potensi. Karena itu, yayasan tersebut membangun program yang menghubungkan karya seni penyandang disabilitas dengan industri fesyen.
“Kami berkomitmen menjadikan Dama Kara sebagai wadah bagi penyandang disabilitas untuk berkarya. Kami percaya bahwa berkarya tidak mengenal keterbatasan,” kata Dini dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, 9 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, peserta mendapat pendampingan dalam kelas menggambar, pengembangan desain, dan produksi karya fesyen. Program tersebut dilakukan melalui pendampingan satu peserta satu fasilitator untuk mengembangkan keterampilan seni, motorik halus, dan rasa percaya diri.
Menurut Dini, karya peserta kemudian dikembangkan melalui lokakarya kolaboratif dan diproduksi menjadi berbagai produk fesyen. Hasil karya tersebut juga telah dipamerkan dalam ajang fesyen internasional di Prancis dan Korea Selatan.
Dama Kara Foundation didirikan pada 2024 dengan menggandeng Our Dream Indonesia dan Art Therapy Center (ATC) Widyatama. Seluruh program bagi penyandang disabilitas diberikan secara gratis, termasuk pendampingan, alat gambar, dan pelatihan.
Dini mengatakan, program tersebut juga bertujuan memperluas kesempatan berkarya bagi penyandang disabilitas yang telah menyelesaikan pendidikan formal. Menurutnya, banyak penyandang disabilitas kesulitan memperoleh ruang untuk berkontribusi setelah lulus sekolah.
Pendanaan program berasal dari sebagian hasil penjualan produk Dama Kara. Skema tersebut diterapkan agar kegiatan pemberdayaan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja penyandang disabilitas usia produktif masih rendah. Dari sekitar 17 juta penyandang disabilitas usia produktif, TPAK pada 2025 tercatat sebesar 20,14 persen.
Dini berharap kolaborasi antara sektor sosial dan industri kreatif dapat membuka lebih banyak peluang kerja dan ruang ekspresi bagi penyandang disabilitas di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....