Kisah Menegangkan di Balik Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945

  • 08 Agt 2026 10:21 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Soekarno membacakan Proklamasi pada 17 Agustus 1945 setelah persiapan panjang dan suasana tegang di Pegangsaan Timur 56
  • Persiapan upacara berlangsung sederhana, mulai dari penyediaan perlengkapan suara hingga pemasangan tiang bambu untuk pengibaran Merah Putih
  • Pengibaran Merah Putih mengiringi Proklamasi, sebelum situasi kembali menegang dengan kedatangan utusan Jepang yang membawa larangan

RRI.CO.ID, Jakarta - Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia setelah persiapan panjang yang berlangsung dalam suasana tegang pada 17 Agustus 1945. Sebelum momen bersejarah itu berlangsung, berbagai persiapan dilakukan sementara rakyat dan para pemuda menunggu di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta.

Dilansir dari laman Kementerian Sekretariat Negara, para pemimpin bangsa menyepakati Proklamasi dilaksanakan pukul 10.00 WIB pagi setelah merumuskan teks hingga dini hari. Kesepakatan tersebut dibuat setelah para tokoh meninggalkan rumah Laksamana Maeda dengan membawa hasil perumusan naskah Proklamasi.

Menjelang pelaksanaan, suasana di sekitar rumah Soekarno semakin ramai karena masyarakat dan pemuda mulai berdatangan untuk menyaksikan Proklamasi. Sejumlah perlengkapan upacara juga dipersiapkan, termasuk mikrofon, pengeras suara, serta tiang untuk pengibaran bendera.

Soewirjo meminta Wilopo menyiapkan perlengkapan suara, sedangkan Sudiro menugaskan S. Suhud mempersiapkan tiang bendera untuk upacara. Karena situasi yang tegang, Suhud mengambil bambu dari belakang rumah, kemudian membersihkan dan memasangnya dengan tali.

Bambu tersebut kemudian ditanam beberapa langkah dari teras rumah Soekarno untuk digunakan sebagai tiang pengibaran bendera. Sementara itu, bendera Merah Putih jahitan tangan Fatmawati Soekarno telah disiapkan meskipun ukurannya tidak sepenuhnya standar.

Rakyat yang mengetahui rencana Proklamasi terus memenuhi halaman rumah Soekarno dan berbaris menunggu dimulainya upacara. Sebagian masyarakat tampak gelisah karena khawatir pihak Jepang akan melakukan gangguan terhadap pelaksanaan Proklamasi.

Soekarno sendiri berada dalam kondisi kurang sehat setelah mengalami demam sepanjang malam dan baru beristirahat seusai merumuskan teks Proklamasi. Para pemuda yang tidak sabar kemudian mendesaknya segera membacakan Proklamasi karena masyarakat telah menunggu sejak pagi.

Namun, Soekarno tidak bersedia membacakan Proklamasi sebelum Mohammad Hatta hadir untuk mendampinginya dalam acara tersebut. Lima menit menjelang pelaksanaan, Hatta tiba mengenakan pakaian putih dan langsung menemui Soekarno di kamarnya.

Soekarno kemudian bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaian putih, lalu bersama Mohammad Hatta menuju lokasi upacara. Keduanya maju menuju mikrofon setelah Latief Hendraningrat memberikan aba-aba kepada barisan pemuda untuk berdiri tegak.

Upacara berlangsung sederhana tanpa protokol resmi, kemudian Soekarno menyampaikan pengantar mengenai perjuangan panjang bangsa Indonesia. Ia menegaskan bahwa bangsa Indonesia telah tiba pada saatnya menentukan sendiri nasib tanah airnya.

Setelah menyampaikan pengantar, Soekarno membacakan teks Proklamasi yang menyatakan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Pembacaan tersebut menjadi inti upacara yang disaksikan langsung oleh rakyat dan para pemuda yang hadir.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat bersama S. Suhud. Para hadirin secara spontan menyanyikan Indonesia Raya ketika bendera dinaikkan perlahan mengikuti irama lagu tersebut.

Setelah upacara selesai, sekitar seratus anggota Barisan Pelopor yang datang terlambat meminta Soekarno mengulangi pembacaan Proklamasi. Soekarno menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan sekali dan berlaku untuk selama-lamanya, kemudian memberikan amanat singkat.

Tidak lama setelah itu, tiga utusan Jepang datang untuk menyampaikan larangan agar Soekarno tidak mengucapkan Proklamasi. Soekarno menjawab tenang bahwa Proklamasi telah dilaksanakan, sementara para pemuda mengawasi utusan tersebut dalam suasana menegangkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....