Pemerintah Tegaskan Nuklir Diprioritaskan untuk Energi dan Kesehatan

  • 07 Agt 2026 23:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan pengembangan teknologi nuklir menjadi fokus pemerintah untuk kepentingan rakyat Indonesia.
  • Pengembangan teknologi nuklir akan diprioritaskan dalam tiga bidang utama penelitian, energi, dan kesehatan.
  • Menteri Prasetyo Hadi memberikan pernyataan tersebut sebagai komitmen pemerintah terhadap pemanfaatan teknologi nuklir secara bertanggung jawab.

RRI.CO.ID, Jakarta: Pemerintah menegaskan pengembangan teknologi nuklir di Indonesia diprioritaskan untuk kepentingan sipil. Pemanfaatannya diarahkan mendukung sektor energi, penelitian, dan layanan kesehatan.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, pemerintah belum membahas pengembangan teknologi nuklir di luar kebutuhan sipil. Fokus utama saat ini adalah mendorong pemanfaatan nuklir yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

"Kalau berkenaan dengan masalah nuklir lebih fokus ke masalah selain penelitian, untuk kepentingan energi dan kesehatan," kata Prasetyo Hadi kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat 7 Agustus 2026.

Menurut Prasetyo, salah satu pemanfaatan yang dikaji adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Teknologi tersebut dinilai berpotensi menjadi alternatif energi rendah emisi untuk mendukung ketahanan energi nasional.

"Itu misalnya untuk mungkinkah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Atau mungkinkah peralatan alutsista berbahan nuklir, dan kesehatan terutama medis," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyampaikan Indonesia telah memiliki berbagai fasilitas riset strategis. Termasuk reaktor nuklir, observatorium, stasiun bumi satelit, hingga pusat komputasi berperforma tinggi.

BRIN juga telah melakukan kajian lokasi pengembangan nuklir bersama sejumlah kementerian dan lembaga. Menurut Arif, beberapa lokasi telah memperoleh persetujuan teknis dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

"Ada beberapa lokasi disetujui IAEA. Tentu persetujuan bukan BRIN. Kita berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup, PLN untuk bersama-sama menentukan lokasi mana sebaiknya," kata Arif.

Ia menilai tantangan utama pengembangan energi nuklir berada pada aspek penerimaan publik. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat edukasi mengenai pemanfaatan nuklir untuk tujuan damai sebagai salah satu pilihan energi masa depan.

"Tantangan itu aspek sosial, perlu komunikasi lebih baik lagi. Bahwa energi nuklir sebagai opsi sumber energi yang harus mulai kita pikirkan," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....