Menteri LH Sebut Hilangnya Keanekaragaman Hayati Kini Menjadi Risiko Finansial

  • 07 Agt 2026 12:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri LH Jumhur Hidayat menyebut hilangnya keanekaragaman hayati kini menjadi risiko finansial.
  • Nilai ekonomi alam dan kerusakan ekosistem perlu diperhitungkan dalam investasi dan bisnis.
  • Pemerintah mendorong investasi beralih ke praktik nature positive melalui penerapan ESG.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat, mengatakan hilangnya keanekaragaman hayati kini bukan lagi sekadar menjadi krisis lingkungan. Menurutnya, hal tersebut telah berkembang menjadi risiko finansial yang memengaruhi dunia usaha dan investasi.

Menurut Jumhur, alam tidak lagi dapat dipandang sebagai sumber daya yang tersedia secara gratis. Ia menegaskan, nilai ekonomi keanekaragaman hayati beserta potensi kerusakannya perlu diperhitungkan dalam setiap aktivitas investasi dan bisnis.

“Ketika ekosistem terancam, portofolio investasi turut terpengaruh. Hal ini menunjukkan peta investasi yang mengarah pada performa ekonomi yang positif terhadap alam,” ujar Jumhur, dalam acara ESG Awards 2026, di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Karena itu, investasi perlu diarahkan dari praktik yang merusak alam menuju investasi yang mendukung pelestarian lingkungan. “Telah banyak langkah berani menggeser investasi yang bersifat merusak nature negative menjadi nature positive,” katanya.

Ia menambahkan, sektor usaha dan jasa keuangan memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan pendanaan konservasi. Utamanya melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Menurutnya, penerapan ESG dapat mendorong investasi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Ia menilai investor kini tidak hanya mempertimbangkan kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko.

Menurutnya, Investor juga melihat kontribusi perusahaan dalam memulihkan lingkungan dan menciptakan dampak positif bagi keberlanjutan. Jumhur menilai kepatuhan terhadap tata kelola lingkungan yang baik akan memperkuat reputasi perusahaan serta mengurangi risiko praktik greenwashing.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, Riki Frindos, menilai keanekaragaman hayati merupakan kekayaan terbesar Indonesia yang kerap terabaikan. Menurutnya, perhatian publik masih lebih banyak tertuju pada sumber daya alam nonhayati.

Sumber daya genetik Indonesia disebutnya sebagai ‘tambang emas’ yang tidak akan habis selama dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. “Tapi superdaya non-hayati ini ada batasnya, satu saat akan habis,” ucap Riki.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....