Program MagangHub Disiapkan untuk Tekan Pengangguran Muda

  • 03 Agt 2026 17:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemnaker menegaskan bahwa Program Magang Nasional (MagangHub) menjadi salah satu strategi untuk menekan angka pengangguran muda di Indonesia.
  • MagangHub juga akan meningkatkan kompetensi lulusan baru (fresh graduate) melalui pengalaman kerja langsung di dunia industri.
  • Melalui MagangHub, peserta akan menjalani program magang selama enam bulan di perusahaan mitra.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menegaskan bahwa Program Magang Nasional (MagangHub) menjadi salah satu strategi untuk menekan angka pengangguran muda di Indonesia. Selain itu, MagangHub juga akan meningkatkan kompetensi lulusan baru (fresh graduate) melalui pengalaman kerja langsung di dunia industri.

Kepala Biro Humas Kemnaker Faried Abdurrahman Nur Yuliono mengatakan, program tersebut dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kompetensi yang diperoleh di bangku kuliah dengan kebutuhan dunia kerja. "Kemnaker berharap Program Magang Nasional dapat berkontribusi pada pengurangan pengangguran muda melalui peningkatan daya saing dan kesiapan kerja lulusan baru," kata Faried di Jakarta, Senin 3 Agustus 2026.

Menurutnya, salah satu kendala yang kerap dihadapi lulusan baru adalah persyaratan pengalaman kerja yang masih sulit dipenuhi. Di sisi lain, mereka belum memiliki kesempatan untuk memperoleh pengalaman tersebut.

Melalui MagangHub, peserta akan menjalani program magang selama enam bulan di perusahaan mitra. Selama periode itu, mereka memperoleh pendampingan dari mentor, memahami budaya kerja, meningkatkan kemampuan teknis maupun nonteknis, serta membangun portofolio dan jaringan profesional.

"Program ini memberikan ruang bagi lulusan perguruan tinggi untuk memperoleh pengalaman kerja nyata selama enam bulan, mendapat bimbingan dari mentor, memahami budaya kerja, mengasah kompetensi teknis dan nonteknis. Serta membangun portofolio dan jejaring profesional," ujarnya.

Faried menilai pengalaman tersebut akan membuat peserta lebih siap memasuki pasar kerja, tidak hanya dalam mencari pekerjaan. Tetapi juga mampu beradaptasi dan berkembang ketika telah diterima bekerja.

Berdasarkan evaluasi pelaksanaan sebelumnya, sekitar 30 persen peserta Magang Nasional telah menerima tawaran pekerjaan setelah menyelesaikan program. Sementara itu, sekitar 34 persen lainnya belum memperoleh penawaran resmi, tetapi sudah memiliki peluang atau indikasi untuk direkrut.

Adapun 36 persen peserta belum mendapatkan tawaran kerja. Ia menegaskan data tersebut menunjukkan bahwa program magang memang tidak menjamin seluruh peserta langsung bekerja, namun mampu membuka jalur transisi yang lebih nyata menuju dunia kerja.

"Data ini penting dibaca secara utuh. Artinya, program magang tidak otomatis menjamin seluruh peserta langsung bekerja, tetapi sudah menunjukkan adanya jalur transisi yang nyata dari magang menuju kesempatan kerja," katanya.

Kemnaker juga mencatat sektor keuangan menjadi penyerap terbesar lulusan program magang dengan porsi 23,4 persen. Disusul sektor perdagangan besar (wholesale trade) sebesar 17,9 persen, manufaktur 16,5 persen, dan sektor kesehatan 10,3 persen.

Temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi bagi Kemnaker untuk memperluas kerja sama dengan sektor-sektor yang memiliki kebutuhan tenaga kerja tinggi. Sekaligus mendorong keterlibatan lebih banyak industri.

"Ini menjadi masukan bagi Kemnaker untuk memperkuat kolaborasi dengan sektor-sektor yang memiliki kebutuhan tenaga kerja tinggi. Sekaligus memperluas partisipasi sektor lain, agar kesempatan peserta semakin beragam," ujar Faried.

Ke depan, Kemnaker berharap Program Magang Nasional 2026 mampu memberikan dampak berlapis. Mulai dari meningkatkan kompetensi dan pengalaman peserta, menyediakan talenta muda yang siap kerja bagi perusahaan, hingga mengurangi kesenjangan kompetensi di pasar kerja nasional.

"Program Magang Nasional menjadi salah satu upaya konkret pemerintah dalam mengurangi pengangguran muda, terutama pengangguran lulusan perguruan tinggi, melalui pendekatan yang lebih langsung. Yaitu, mempertemukan lulusan baru dengan dunia kerja, memberikan pengalaman riil, memperkuat kompetensi, dan membuka peluang rekrutmen setelah program selesai," kata Faried.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....