Tanaman Mangrove Jenis Langka di Kubu Raya Berhasil Dikembangbiakkan

  • 02 Agt 2026 17:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah berhasil mengembangbiakkan mangrove langka Bruguiera hainesii yang ditemukan di Kubu Raya, Kalimantan Barat melalui upaya konservasi ekosistem pesisir.
  • Penemuan mangrove langka ini berawal pada tahun 2024 melalui patroli masyarakat yang dilakukan bersama Lembaga SAMPAN.
  • Kepala Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove Wilayah Kalimantan, Sudaryanti, memimpin inisiatif penguatan konservasi untuk melindungi spesies mangrove yang jarang ditemukan.

RRI.CO.ID, Jakarta – Pemerintah berhasil mengembangbiakkan mangrove langka Bruguiera hainesii yang ditemukan di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Upaya tersebut menjadi bagian dari penguatan konservasi ekosistem pesisir di Indonesia.

Kepala Balai Pengelolaan Ekosistem Gambut dan Mangrove Wilayah Kalimantan, Sudaryanti, mengatakan temuan mangrove langka bermula pada 2024. Penemuan dilakukan melalui patroli masyarakat bersama Lembaga SAMPAN.

"Jenis Bruguiera hainesii memang sangat langka di dunia. Di Kubu Raya hanya ditemukan tiga pohon," ujar Sudaryanti kepada Pro3 RRI, Minggu, 2 Agustus 2026.

Ia menjelaskan hanya satu pohon yang masih berada dalam kondisi baik. Dua pohon lainnya terancam akibat serangan rayap dan abrasi pantai.

Sudaryanti mengatakan habitat mangrove Kubu Raya sangat luas sehingga berbagai jenis mangrove masih dapat ditemukan. Berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2025, luas mangrove Kalimantan Barat meningkat menjadi lebih dari 163 ribu hektare.

"Dulu luasnya sekitar 112 ribu hektare. Kini bertambah menjadi lebih dari 163 ribu hektare," katanya.

Meski demikian, ancaman terhadap mangrove masih terus terjadi. Perambahan, alih fungsi lahan, dan perubahan iklim menjadi faktor utama kerusakan ekosistem pesisir.

Pemerintah bersama mitra berhasil mengembangbiakkan sekitar seribu bibit Bruguiera hainesii. Bibit tersebut ditanam di beberapa lokasi dengan tingkat keberhasilan hidup sekitar 72 persen.

"Dari sekitar seribu bibit, tingkat keberhasilan hidupnya mencapai sekitar 72 persen. Ini menjadi hasil yang cukup menggembirakan," ucap Sudaryanti.

Ia mengatakan konservasi tidak hanya berfokus pada pembibitan. Pemerintah juga menyusun rencana perlindungan pohon induk, pemetaan habitat, serta pelibatan masyarakat.

Sudaryanti menambahkan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan mangrove. Pendampingan dilakukan melalui kelompok pengelola hutan desa dan berbagai mitra konservasi.

"Kami ingin masyarakat terlibat sejak pembibitan hingga pemantauan pertumbuhan mangrove. Pelibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan konservasi," ujarnya.

Selain itu, pemerintah daerah mulai mengalihkan ekonomi masyarakat dari produksi arang bakau menuju usaha ramah lingkungan. Program tersebut mencakup pelatihan madu mangrove, pembibitan, serta rehabilitasi kawasan pesisir.

Pemerintah juga mulai menyusun Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove (RPPM) di berbagai daerah. Rencana tersebut menjadi pedoman pengelolaan mangrove secara berkelanjutan di seluruh wilayah Kalimantan. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....