Wamen ESDM Percepat Operasional PLTA Batang Toru Perkuat Pasokan Listrik Sumatra

  • 31 Jul 2026 15:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Menteri ESDM Yuliot mempercepat pengoperasian PLTA Batang Toru berkapasitas 510 megawatt untuk memperkuat keandalan pasokan listrik Sumatra
  • Percepatan dilakukan menyusul dampak bencana hidrologi November 2025 yang merobohkan lima menara transmisi dan mengganggu sistem kelistrikan Sumatra
  • PLTA Batang Toru senilai Rp21,6 triliun diharapkan mendukung target bauran Energi Baru Terbarukan mencapai 21 persen pada akhir 2026

RRI.CO.ID, Tapanuli Selatan - Wakil Menteri ESDM Yuliot mempercepat pengoperasian PLTA Batang Toru guna memperkuat keandalan pasokan listrik di Sumatra. Pembangkit berkapasitas 510 megawatt tersebut dipersiapkan segera terhubung dengan jaringan kelistrikan Sumatra untuk mengantisipasi kondisi kritis.

Percepatan pengoperasian menjadi fokus kunjungan kerja Wakil Menteri ESDM Yuliot ke proyek tersebut di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Kunjungan berlangsung di Proyek Strategis Nasional yang dikembangkan PT North Sumatra Hydro Energy, Kamis, 30 Juli 2026.

"Ini merupakan upaya percepatan kita untuk penyediaan dan keandalan energi secara nasional, khususnya, kondisi energi di wilayah Sumatra cukup kritis. Sehingga kita memerlukan antisipasi, dengan keterbatasan ketersediaan energi primer yang lain, kita sudah memiliki PLTA Batang Toru yang bisa on-grid," ujar Yuliot di Proyek Strategis Nasional di Tapanuli Selatan, Kamis, 30 Juli 2026.

Tantangan sistem kelistrikan Sumatra masih dipengaruhi dampak bencana hidrologi yang terjadi pada November 2025 lalu. Peristiwa tersebut menyebabkan lima menara transmisi roboh serta merusak sejumlah infrastruktur pendukung jaringan kelistrikan.

Kementerian ESDM kini mengawal proses pemulihan infrastruktur transmisi yang masih memasuki tahapan perancangan menara beserta struktur pondasi. Langkah percepatan dilakukan agar listrik dari pembangkit dapat segera tersalurkan menuju jaringan transmisi Sumatra secara optimal.

"Pembangunan kembali jalur transmisi ini dilakukan secara terakselerasi. Agar energi listrik dari PLTA Batang Toru dapat disalurkan dengan optimal ke dalam jaringan transmisi Sumatra," katanya.

Selain persoalan transmisi, proyek senilai Rp21,6 triliun itu sebelumnya juga menghadapi hambatan pada aspek perizinan serta administrasi. Kelanjutan pembangunan dipastikan setelah sanksi administratif dicabut melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 1444 Tahun 2026 tertanggal 16 Maret 2026.

Proses administrasi kini berjalan bersamaan dengan pelaksanaan pengujian teknis pembangkit yang membutuhkan genangan air sebagai syarat utama. Pemerintah menjalankan kedua tahapan tersebut secara paralel untuk mempercepat penyelesaian proyek pembangkit listrik tenaga air tersebut.

"Testing yang dilakukan ini namanya PLTA kan harus ada genangan, kalau tidak ada genangan, testing tidak bisa kita lakukan. Berarti antara penyelesaian administratif dan juga pelaksanaan testing itu kita lakukan secara paralel," ucap Yuliot.

Pengoperasian PLTA Batang Toru diharapkan mendukung target bauran Energi Baru Terbarukan dari kisaran 16 hingga 17 persen menjadi 21 persen pada akhir 2026. PLTA seluas 650 hektare di Kabupaten Tapanuli Selatan itu dibangun sejak 1 September 2017 oleh PT North Sumatra Hydro Energy bersama Sinohydro Corporation Limited melalui investasi penanaman modal asing senilai Rp21,6 triliun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....