Menteri ESDM Tegaskan Kesiapan Indonesia Jalankan Mandatori Biodiesel B50

  • 12 Jul 2026 04:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan Program Mandatori Biodiesel B50 menjadi langkah strategis memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional
  • Implementasi B50 diproyeksikan meningkatkan penghematan devisa menjadi Rp170 triliun, menaikkan nilai tambah industri CPO menjadi Rp23,49 triliun, serta menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja
  • Kementerian ESDM memastikan B50 telah memenuhi standar teknis melalui berbagai pengujian pada sektor transportasi, industri, pertanian, pertambangan, hingga pembangkit listrik

RRI.CO.ID, Karawang - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan kesiapan implementasi Program Mandatori Biodiesel B50 memperkuat kedaulatan energi nasional. Program tersebut menjadi langkah strategis pemerintah mengoptimalkan energi berbasis bahan bakar nabati sawit sebagai sumber energi domestik.

Pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi terbarukan melalui peningkatan campuran biodiesel pada bahan bakar solar nasional. Kebijakan tersebut sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya domestik dalam mendukung bauran energi nasional yang lebih berkelanjutan.

Menurut Bahlil, implementasi B50 tidak hanya meningkatkan kadar campuran biodiesel dalam bahan bakar solar nasional. Kebijakan tersebut juga mencerminkan komitmen pemerintah melakukan diversifikasi sumber energi sekaligus meningkatkan nilai tambah perekonomian nasional.

"Launching Program Mandatori B50 bukan sekadar peluncuran sebuah kebijakan, melainkan tonggak bersejarah yang menandai langkah nyata Indonesia. Dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional," ujar Bahlil saat mendampingi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada Peluncuran B50 di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026.

Bahlil menjelaskan Indonesia memiliki potensi besar memperkuat kemandirian energi melalui pemanfaatan biodiesel berbasis minyak sawit nasional. Sebagai produsen crude palm oil terbesar dunia, Indonesia dinilai perlu terus mengoptimalkan sumber daya tersebut bagi perekonomian.

"B50 bukan sekadar energi baru, tetapi bagian dari transformasi energi yang mengoptimalkan potensi Indonesia. Demi memperkuat ketahanan energi nasional sebagai fondasi pembangunan ekonomi bangsa," ucapnya.

Kementerian ESDM memproyeksikan implementasi Mandatori Biodiesel B50 memberikan manfaat ekonomi lebih besar dibandingkan penerapan B40 sebelumnya. Penghematan devisa diperkirakan meningkat dari Rp133,3 triliun pada B40 menjadi Rp170 triliun melalui implementasi B50.

Nilai tambah industri crude palm oil diproyeksikan meningkat dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun setelah implementasi B50. Program tersebut juga diperkirakan mampu menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja pada berbagai sektor pendukung nasional.

Untuk mendukung implementasi, kebutuhan biodiesel diproyeksikan mencapai 16,7 hingga 18 juta kiloliter dengan kebutuhan CPO 15,2 hingga 16,3 juta ton. Penggunaan B50 diperkirakan menurunkan emisi karbon dioksida hingga 44,46 juta ton dibandingkan B40 sebesar 39,66 juta ton.

Bahlil memastikan Kementerian ESDM telah melaksanakan berbagai pengujian teknis terhadap kendaraan, alat berat, mesin pertanian, hingga pembangkit listrik. Pengujian juga dilakukan pada kereta api, angkutan laut, serta berbagai sarana transportasi dan industri strategis nasional.

Hasil pengujian menunjukkan B50 memenuhi spesifikasi teknis pemerintah serta standar yang dipersyaratkan seluruh pabrikan kendaraan terkait. Kesiapan implementasi turut diperkuat melalui uji penerapan di Kutai Timur, Semarang, Yogyakarta, Cirebon, dan Surabaya PT Pertamina Patra Niaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....