Indonesia-Tiongkok Perkuat Kerja Sama Transisi Energi dan Aksi Iklim

  • 30 Jul 2026 23:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia saat ini mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan mitigasi perubahan iklim
  • Tiongkok memandang Indonesia sebagai mitra strategis penting di kawasan ASEAN

RRI.CO.ID, Jakarta – Indonesia dan Tiongkok memperkuat kemitraan strategis di bidang transisi energi bersih, aksi perubahan iklim, dan pembangunan hijau. Sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Komitmen dilakukan dalam pertemuan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat dengan Utusan Khusus Perubahan Iklim Tiongkok Liu Zhenmin. Jumhur mengatakan kerja sama ini merupakan tindak lanjut komitmen kedua kepala negara yang menempatkan pembangunan hijau.

“Indonesia meyakini bahwa perlindungan lingkungan bukan merupakan beban pembangunan, melainkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Karena itu kami mengusung paradigma Growth through Environmental Protection, yaitu membangun kesejahteraan melalui perlindungan lingkungan hidup,” kata Jumhur, Kamis, 30 Juli 2026.

Menurutnya, Indonesia saat ini mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan mitigasi perubahan iklim. Lalu adaptasi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai tiga pilar utama kebijakan iklim nasional.

Pendekatan tersebut diperkuat melalui pengembangan pasar karbon. Yakni dengan kredit keanekaragaman hayati, mekanisme pembagian manfaat yang adil, serta penerapan prinsip keadilan iklim.

“Ke depan, kami berharap kerja sama ini semakin berorientasi pada aksi nyata. Yaitu investasi hijau, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas sehingga mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat kedua negara,” katanya.

Sementara itu, Liu Zhenmin menyatakan Tiongkok memandang Indonesia sebagai mitra strategis penting di kawasan ASEAN. Pihaknya memperluas kerja sama konkret di berbagai sektor hijau.

“Kami siap memperdalam kerja sama praktis di bidang perubahan iklim. Kemudian energi bersih, teknologi hijau, sistem peringatan dini bencana, ekonomi sirkular, dan perlindungan lingkungan,” ujar Liu.

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menyepakati sejumlah fokus kerja sama. Antara lain pengembangan energi terbarukan, pengelolaan sampah menjadi energi, konservasi hutan hujan tropis, sistem peringatan dini bencana berbasis AI, ujarnya.

Selain itu, kedua negara berkomitmen memperkuat posisi negara berkembang dalam perundingan iklim global. Termasuk mendorong negara maju memenuhi komitmen pendanaan iklim dan alih teknologi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....