Gempa Tektonik M5.3 Getarkan Kepulauan Sangihe Sulut

  • 29 Jul 2026 21:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gempa bumi tektonik dengan magnitudo M5.3 mengguncang Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara pada 29 Juli 2026 pukul 20:23:55 WIB dengan kedalaman 25 km.
  • Episenter gempa berlokasi di laut pada jarak 183 km arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, berdasarkan koordinat 5.24° LU; 125.20° BT.
  • BMKG melalui Direktur Gempabumi dan Tsunami menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami berdasarkan hasil pemodelan tsunami.

RRI.CO.ID, Jakarta - Wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara diguncang gempa bumi tektonik pada Rabu 29 Juli 2026, pukul 20:23:55 WIB. Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M5.3 pada kedalaman 25 km.

"Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 5.24° LU; 125.20° BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 183 Km arah barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Dr. Wijayanto, S.T., M.Sc. dalam siaran pers yang diterima RRI, Rabu 29 Juli 2026 malam.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi di Cotabato Trench. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap), gempa bumi ini dirasakan dengan skala intensitas:

1. IV MMI (Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi) di Kepulauan Marore, Kepulauan Sangihe

2. III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu) di Kendahe, Kepulauan Sangihe dan Miangas, Kepulauan Talaud

"Hingga pukul 20:45 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan tidak adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock). BMKG akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat," ucapnya.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tindakan lain yang perlu dilakukan adalah menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi.

"Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi. Seperti media sosial @infoBMKG, website www.bmkg.go.id atau https://inatews.bmkg.go.id/web/detail?name=20260729202632&day=578, dan Mobile Apps infobmkg atau wrs-bmkg," ujar Wijayanto mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....