Kisah Pilu KD, Korban Viral Pengeroyokan di Bali yang Sempat Siapkan Biaya Sekolah
- 28 Jul 2026 10:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- KD dikenal sebagai buruh serabutan yang bekerja sebagai buruh petik cengkih saat musim panen dan buruh cangkul di luar musim untuk menghidupi keluarganya.
- Sebelum menghilang selama tiga hari, KD sempat menyerahkan Rp2.713.000 kepada istrinya untuk membayar uang gedung sekolah anak, sementara keluarga mengaku tidak mengetahui alasan dugaan pencurian ayam.
- Polisi melakukan ekshumasi jenazah KD guna memastikan penyebab pasti kematian dan mengumpulkan bukti forensik untuk memperkuat penyidikan kasus dugaan pengeroyokan massa.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kehidupan pria berinisial KD berubah menjadi perhatian publik, setelah tewas dalam dugaan pengeroyokan massa di Kabupaten Tabanan, Bali. Di balik peristiwa itu, keluarga mengenang sosok pekerja keras yang beberapa hari sebelumnya masih memikirkan pendidikan anaknya.
Sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi, KD dilaporkan tidak pulang ke rumah selama tiga hari tanpa memberikan kabar. Kepergiannya sempat menimbulkan kekhawatiran hingga akhirnya keluarga menerima kabar duka dari wilayah Baturiti, Kabupaten Tabanan.
Sepupu korban, Made Partha mengungkapkan KD sehari-hari bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan istri serta kedua anak perempuannya. Saat musim panen cengkih tiba, KD bekerja sebagai buruh petik cengkih, sedangkan hari biasa menjadi buruh cangkul.
"Kalau musim cengkih dia buruh petik cengkih. Kalau tidak ada musim cengkih, dia buruh nyangkul," ucapnya dalam keterenban pers yang diterima RRI, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurutnya, pekerjaan serabutan itu dijalani korban selama bertahun-tahun untuk memenuhi kebutuhan keluarga meski penghasilannya tidak selalu tetap. Ia mengaku tidak mengetahui alasan sepupunya diduga nekat mencuri ayam aduan di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.
Ia justru mengingat, sebelum menghilang, KD telah menyerahkan uang Rp2.713.000 kepada istrinya untuk biaya gedung sekolah anak. Dana tersebut dipersiapkan khusus agar anak korban tetap dapat melanjutkan pendidikan di sebuah sekolah menengah atas swasta setempat.
Keluarga pun mengaku tidak pernah menduga perpisahan itu menjadi pertemuan terakhir bersama sosok kepala keluarga yang mereka cintai. "Nah, itu saya kurang tahu kenapa dia diduga mencuri ayam, soalnya uang Rp2.713.000 itu sudah ter-cover," katanya.
Ia mengatakan, kebutuhan pendidikan anak sebelumnya telah dipenuhi sehingga keluarga tidak mengetahui latar belakang dugaan peristiwa terjadi. Beberapa hari setelah KD menghilang, Partha menerima informasi dari perangkat desa mengenai penemuan seorang jenazah di kawasan Baturiti, Kabupaten Tabanan.
Saat mendatangi lokasi, keluarga mengaku belum mengetahui penyebab kematian korban karena mengira sepupunya meninggal akibat penyebab yang wajar. Setelah melihat video viral yang beredar dan kondisi jenazah, keluarga baru mengetahui korban diduga menjadi sasaran pengeroyokan massa.
"Awalnya saya kira meninggal biasa, setelah melihat video dan kondisi jenazah, keluarga sangat terkejut," ujarnya. Ia mengatakan keluarga mendukung sepenuhnya proses hukum agar seluruh fakta penyebab kematian korban dapat terungkap secara menyeluruh nantinya.
Kepolisian melakukan ekshumasi terhadap jenazah KD di Kuburan Desa Adat Sidatapa, Kabupaten Buleleng, pada Senin, 27 Juli 2026. Langkah tersebut ditempuh untuk melengkapi penyidikan sekaligus memastikan penyebab kematian melalui pemeriksaan forensik yang lebih mendalam.
"Tujuan utama ekshumasi adalah mengidentifikasi identitas mayat, mencari penyebab pasti kematian. Serta mengumpulkan tanda-tanda kekerasan demi kepentingan penegakan keadilan hukum," ujar Kapolres Tabanan AKBP I Putu Bayu Pati.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....