Cholil Nafis Ingatkan AI Tak Bisa Jadi Guru Agama

  • 24 Jul 2026 21:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pembelajaran agama harus melalui ulama atau ustadz yang memiliki sanad keilmuan untuk menjamin keaslian dan validitas ajaran
  • MUI menetapkan jihad digital sebagai bagian dari arah perjuangan menghadapi perkembangan teknologi informasi
  • AI dan media hanya dapat menjadi sumber inspirasi atau informasi awal, bukan pengganti guru agama

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua MUI Cholil Nafis mengatakan arah perjuangan MUI ke depan mencakup jihad digital dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi. Ia menyebut jihad digital bertujuan memastikan masyarakat tidak menjadikan sumber informasi dari AI maupun media sebagai guru.

“Ke depan itu arah perjuangan kita juga berjuang di ranah digital, kita sebut dengan namanya ‘jihad digital’. Kita ingin memastikan pada masyarakat bahwa sumber informasi dari AI, dari media itu tidak bisa menjadi guru kita yang bisa benar,” usai pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) di Jakarta, Jumat, 24 Juli 2026.

Menurut Cholil, informasi dari kecerdasan buatan dan media dapat dimanfaatkan sebagai inspirasi maupun sarana menggali pengetahuan awal. Namun, pembelajaran agama tetap membutuhkan transmisi keilmuan atau sanad yang menjamin keaslian serta validitas ajaran.

“Sebagai inspirasi atau menggali informasi benar-benar saja, tapi belajar agama itu butuh transmisi keilmuan, disebut dengan sanad. Ada yang menjamin bahwa itu benar, ada yang menjamin bahwa itu adalah original dan valid,” ucap Cholil.

Ia menjelaskan keberadaan sanad menjadi jaminan bahwa ilmu agama yang dipelajari benar, asli, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sementara itu, informasi yang diperoleh melalui media dinilai mungkin sebagian benar, tetapi sebagian lainnya dapat keliru.

Karena itu, MUI menegaskan masyarakat harus berguru kepada ulama atau ustadz yang mumpuni serta menjadi teladan. Menurutnya, pembelajaran agama tidak dapat dilakukan hanya mengandalkan mesin tanpa bimbingan guru yang memiliki sanad keilmuan.

“Maka MUI ingin menegaskan dalam Kongres Umat Islam ini, berguru harus kepada orang, berguru kepada ulama, kepada ustadz. Yang memang mumpuni dan memang menjadi teladan, tidak bisa berguru hanya kepada ‘mesin’,” katanya.

Cholil menambahkan Kongres Umat Islam juga akan menegaskan batasan penggunaan teknologi informasi dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Ia menekankan peran guru pembimbing dan ustadz bersanad tetap menjadi bagian penting di tengah perkembangan teknologi digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....