Bus 'H2 DDF' dan 'Green Hydrogen Corridor' Perkuat Ekosistem Hidrogen Nasional
- 22 Jul 2026 11:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pengembangan hidrogen telah memasuki tahap penerapan dengan peluncuran Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel dan Green Hydrogen Corridor sebagai proyek strategis nasional.
- Bus H2 DDF adalah armada berbahan bakar diesel yang dimodifikasi menggunakan teknologi hidrogen sebagai bahan bakar tambahan untuk efisiensi energi.
- Green Hydrogen Corridor sepanjang 194 kilometer menghubungkan Jakarta, Karawang, dan Patimban untuk mendukung pengembangan ekosistem hidrogen nasional secara bertahap.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan pengembangan hidrogen memasuki tahap penerapan melalui berbagai proyek strategis nasional. Langkah tersebut ditandai peluncuran Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) dan Green Hydrogen Corridor yang menghubungkan Jakarta, Karawang, hingga Patimban.
Bus H2 DDF merupakan armada berbahan bakar diesel yang telah dimodifikasi menggunakan teknologi hidrogen sebagai bahan bakar tambahan. Sementara Green Hydrogen Corridor dikembangkan sepanjang 194 kilometer untuk mendukung pengembangan ekosistem hidrogen nasional secara bertahap.
Kedua inisiatif tersebut diperkenalkan dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit 2026 yang berlangsung selama 21 hingga 23 Juli 2026. Kegiatan itu digelar di Jakarta International Convention Center dan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan pengembangan hidrogen nasional.
Forum tersebut menghadirkan unsur pemerintah, badan usaha, kalangan industri, akademisi, investor, lembaga riset, serta mitra internasional. Pertemuan itu bertujuan mempercepat pembangunan ekosistem hidrogen nasional melalui kolaborasi lintas sektor secara berkelanjutan.
"Hidrogen merupakan energi alternatif yang sangat penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu, seperti konflik di Timur Tengah yang melahirkan ketidakpastian. Kondisi ini memaksa setiap negara untuk memproteksi kebutuhan energi nasionalnya dengan memanfaatkan keunggulan komparatif masing-masing," ujar Bahlil dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit 2026, Selasa, 21 Juli 2026.
Bahlil menilai pembangunan ekosistem hidrogen terintegrasi mampu menghasilkan energi bersih sekaligus menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Menurutnya, pengembangan tersebut juga meningkatkan daya saing industri nasional, menarik investasi, serta membuka peluang kerja berkelanjutan.
Meski demikian, ia mengakui pengembangan hidrogen masih menghadapi tantangan karena biaya produksinya belum mampu bersaing dengan sumber energi lainnya. Kondisi tersebut termasuk dibandingkan penggunaan bahan bakar B50 yang saat ini masih memiliki biaya lebih kompetitif.
"Tetapi keyakinan saya dengan perang terus terjadi, dengan geopolitik yang tidak menentu dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru. Maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya," ucap Bahlil.
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Eniya Listiani Dewi mengatakan pengembangan hidrogen diarahkan mendukung dekarbonisasi berbagai sektor strategis nasional. Sektor tersebut meliputi industri, transportasi, serta ketenagalistrikan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan bahan bakar fosil.
"Saat ini kami mempunyai 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya tersebar di seluruh Indonesia. Dan melahirkan investasi sebesar Rp32 triliun," ujar Eniya.
Pemerintah juga mendorong proyek hidrogen melalui program dedieselisasi di Sumba dengan target commercial operation date pada 2028. Program serupa dikembangkan di Pulau Rote bersama PLN dan diproyeksikan menurunkan biaya produksi listrik dari 1 dollar AS menjadi 25 sen dollar AS per kilowatt hour.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....