Sidak Pasar Induk Beras Cipinang: Stok Beras Aman, Distribusi Jadi Perhatian
- 03 Okt 2026 00:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Komisi IV DPR RI, Bapanas, dan Bulog melakukan sidak beras di Pasar Induk Beras Cipinang
- Stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang dipastikan tersedia dan pasokan berjalan lancar
- Cadangan Beras Pemerintah mencapai 4,8 juta ton per 2 Oktober 2026
- Pedagang menyebut harga beras turun dalam dua pekan terakhir
- Pemerintah mengawal distribusi beras hingga ritel untuk menjaga harga sesuai ketentuan
RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi IV DPR RI bersama Bapanas dan Perum Bulog mengecek stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang. Hasil pengecekan Jumat, 2 Oktober 2026, menunjukkan stok tersedia dan distribusi menjadi perhatian pemerintah.
Pengecekan dilakukan terhadap sejumlah kios untuk melihat langsung ketersediaan dan pasokan beras di pasar. Pasokan berasal dari sejumlah sentra produksi, termasuk Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto mengatakan stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang tersedia. Menurutnya, harga beras juga masih berada pada tingkat yang terkendali.
“Stok berasnya lancar. Ada yang dari Jawa Barat, ada dari Jawa Tengah, dan harganya pun oke, baik, tidak tinggi,” ujarnya.
Titiek mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras nasional. Cadangan beras yang dikelola Bulog mencapai sekitar 4,8 juta ton per 2 Oktober 2026.
“Cadangan beras kita 4,8 juta ton per hari ini. Jadi tidak usah khawatir. Kalau stoknya banyak berarti harganya bisa terkendali,” katanya.
Menurut Titiek, ketersediaan stok perlu diikuti distribusi yang efektif dari produsen hingga konsumen. Beras dari produsen dan Bulog harus disalurkan ke pasar, pengecer, hingga masyarakat.
“Beras ini bukan hanya masalah stok saja. Tetapi juga bagaimana kita memastikan beras ini disalurkan dari produsen dan juga dari Bulog ke pasar secara efektif dan efisien,” tutur Titiek.
Pedagang beras Pasar Induk Beras Cipinang, Anto, mengatakan harga beras mengalami penurunan dalam dua pekan terakhir. Penurunan harga di tingkat distributor mencapai sekitar Rp500 per kilogram.
“Dua minggu terakhir ini ada penurunan, mungkin karena efek bantuan pangan. Jadi yang biasanya beli beras ke kita sudah dikasih bantuan sama Pak Prabowo, jadi kebutuhan menurun,” ujar Anto.
Menurut Anto, beras medium yang sebelumnya sekitar Rp14.000 per kilogram turun menjadi sekitar Rp13.500. Sementara beras premium turun dari sekitar Rp15.000 menjadi Rp14.500 per kilogram.
Sekretaris Utama Bapanas Ito Hediarto mengatakan hasil sidak menunjukkan pasokan beras di pasar tersedia. Pemerintah akan terus mengawal agar penurunan harga distributor diteruskan hingga konsumen.
“Kalau stoknya banyak, harganya bisa terkendali. Tidak fluktuasi,” kata Ito.
Ito menjelaskan persoalan sebagian ritel modern bukan disebabkan kekurangan stok beras. Menurutnya, tantangannya berada pada pemerataan distribusi dari pusat distribusi menuju gerai.
“Beras aman. Medium, apalagi. Premium penyaluran distribusinya yang kita jaga ketat. Penyalurannya sampai ke DC, kita tinggal kawal dari DC ke retail-retail,” ucapnya.
Ito mengatakan pasokan beras premium tersedia di sentra produksi dan pasar tradisional. Pasokan Bulog juga telah sampai ke distribution center sehingga penyaluran menuju gerai perlu dikawal.
Bapanas mendorong Bulog berkoordinasi dengan pelaku usaha perberasan dan asosiasi memperkuat penyaluran beras premium. Pasokan premium untuk ritel modern saat ini berada di kisaran 600 ton per hari.
Ito menegaskan pemerintah akan menindak praktik penetapan harga beras yang melampaui ketentuan. Ritel yang menjual beras di atas Harga Eceran Tertinggi telah mendapatkan teguran dan pemanggilan.
“Jadi poinnya adalah ketika ada oknum yang menentukan harga di atas HET, tidak ada alasan lagi. Kita lihat bersama, beras cukup, semuanya ada,” katanya.
Terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan, pemerintah terlebih dahulu melakukan pembinaan dan teguran. Apabila ketentuan kembali dipatuhi, penanganan tidak langsung dilanjutkan ke proses hukum.
Bapanas bersama Bulog dan pemangku kepentingan akan terus mengawal ketersediaan serta distribusi beras dari hulu hingga hilir. Langkah tersebut dilakukan agar stok segera sampai kepada masyarakat dengan harga wajar dan sesuai ketentuan.
“Intinya kami dari pemerintah, Bulog, dan seluruh dunia usaha bersinergi dengan pihak-pihak swasta, penggilingan-penggilingan swasta, untuk menjamin ketersediaan dan keterjangkauan serta stabilisasi harga pangan beras di seluruh tanah air,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....