Cegah Kebutaan, Kemenkes Perkuat Deteksi Dini Retinopati Diabetik

  • 20 Jul 2026 18:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Roche Indonesia memperkuat upaya pencegahan kebutaan akibat retinopati diabetik
  • Melalui Forum Jurnalis Kesehatan bertajuk Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik di Jakarta, Senin, 20 Juli 2026
  • Forum tersebut menjadi bagian dari kolaborasi untuk meningkatkan deteksi dini retinopati diabetik sekaligus memperkuat ekosistem pelayanan kesehatan mata di Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Roche Indonesia memperkuat upaya pencegahan kebutaan akibat retinopati diabetik. Melalui Forum Jurnalis Kesehatan bertajuk Strategi, Aksi, Kolaborasi Mencegah Kebutaan Akibat Retinopati Diabetik di Jakarta, Senin, 20 Juli 2026.

Forum tersebut menjadi bagian dari kolaborasi untuk meningkatkan deteksi dini retinopati diabetik sekaligus memperkuat ekosistem pelayanan kesehatan mata di Indonesia. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pemerintah terus memperkuat upaya pencegahan komplikasi diabetes melalui integrasi layanan skrining retina di fasilitas kesehatan primer.

"Pemerintah berkomitmen tidak hanya mengendalikan diabetes, tetapi juga mencegah komplikasi turunannya secara menyeluruh. Melalui program Cek Kesehatan Gratis, masyarakat dapat memeriksakan gula darah secara berkala dan ke depan layanan skrining retina akan diperluas di Puskesmas," kata Nadia.

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, mengatakan tingginya jumlah penyandang diabetes yang belum terdiagnosis menjadi tantangan dalam pengendalian penyakit tersebut. Menurutnya, diabetes yang tidak terkendali dapat memicu berbagai komplikasi, termasuk retinopati diabetik yang berisiko menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan apabila tidak dideteksi sejak dini.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM, Prof. Dr. Muhammad Bayu Sasongko, Sp.M., Ph.D., menilai retinopati diabetik masih kurang mendapat perhatian. Meski merupakan salah satu komplikasi diabetes yang paling sering terjadi.

Ia mengatakan banyak penderita tidak menyadari kerusakan pembuluh darah pada retina karena penyakit berkembang secara bertahap tanpa gejala pada fase awal. Karena itu, edukasi dan deteksi dini dinilai penting untuk mencegah kehilangan penglihatan.

Dalam forum tersebut juga diperkenalkan pengembangan proyek percontohan (pilot project) layanan tele-oftalmologi yang mengintegrasikan penggunaan kamera retina (fundus camera), pelatihan tenaga kesehatan di puskesmas, serta sistem rujukan untuk mempercepat deteksi retinopati diabetik.

Program tersebut mendukung target Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan 2025–2030 Kementerian Kesehatan yang menargetkan peningkatan skrining retina bagi penyandang diabetes. Serta perluasan akses pengobatan bagi pasien yang terdeteksi mengalami retinopati diabetik.

Direktur Akses, Komunikasi, dan Penguatan Sistem Kesehatan Roche Indonesia, Lucia Erniawati, mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung pemerintah melalui penguatan sistem skrining, rujukan. Serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan untuk meningkatkan deteksi dini penyakit mata akibat diabetes.

Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, Kemenkes berharap semakin banyak penyandang diabetes memperoleh akses pemeriksaan retina secara berkala. Sehingga risiko kebutaan akibat retinopati diabetik dapat ditekan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....