Asosiasi Nilai Koperasi Belum Jadi Penggerak Utama Perekonomian Nasional

  • 23 Jul 2026 14:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Koperasi belum menjadi penggerak utama perekonomian nasional hingga sekarang ini. Ia menilai kontribusi koperasi terhadap produk domestik bruto masih sangat kecil sehingga belum berperan sebagai sokoguru perekonomian bangsa.
  • Koperasi hadir sebagai kebutuhan masyarakat membangun keadilan ekonomi sekaligus menciptakan kesetaraan melalui pengelolaan usaha bersama secara demokratis.
  • Suroto mengusulkan pemerintah segera memasukkan pendidikan perkoperasian ke dalam kurikulum sekolah serta perguruan tinggi agar pemahaman masyarakat meningkat luas

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), Suroto mengatakan, koperasi hingga kini belum menjadi penggerak utama perekonomian nasional. Menurutnya, kontribusi koperasi terhadap produk domestik bruto (PDB) masih sangat kecil sehingga belum berperan sebagai sokoguru perekonomian.

"Berjaya itu kalau koperasi sudah menjadi sokoguru atau tiang utama perekonomian. Tetapi sekarang kontribusinya masih sekitar satu persen," kata Suroto kepada PRO3 RRI, Rabu, 22 Juli 2026.

Ia menilai koperasi lahir sebagai kebutuhan masyarakat untuk membangun keadilan ekonomi sekaligus menciptakan kesetaraan melalui pengelolaan usaha bersama secara demokratis. Namun, rendahnya pemahaman masyarakat tentang koperasi masih menjadi tantangan utama.

Menurut Suroto, minimnya pemahaman tersebut disebabkan kurangnya pendidikan perkoperasian sejak jenjang sekolah hingga perguruan tinggi. "Kalau konsep koperasi dipahami masyarakat, saya yakin masyarakat Indonesia ingin sekali berkooperasi," ujarnya.

Oleh karena itu, Suroto mengusulkan pemerintah memasukkan pendidikan perkoperasian ke dalam kurikulum sekolah dan perguruan tinggi. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai koperasi.

Ia juga menekankan pentingnya membangun ekosistem koperasi secara menyeluruh melalui pendidikan, pembiayaan, serta praktik pengelolaan yang berkelanjutan. "Orang berkooperasi kalau dia tahu koperasi, bukan karena sekadar disuruh berkooperasi," katanya.

Suroto menilai Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila manfaat ekonominya dapat segera dirasakan. Menurutnya, distribusi barang bersubsidi melalui koperasi juga dapat memperkuat kepercayaan publik dan mendorong partisipasi masyarakat.

Ia mengatakan, keberadaan KDMP di setiap desa dan kelurahan memungkinkan penyaluran barang subsidi berlangsung lebih transparan serta mudah diawasi. Ia berharap KDMP menjadi pembeli utama hasil produksi masyarakat.

Ia menilai hasil produksi masyarakat perlu memperoleh kepastian pasar melalui koperasi. Komoditas di antaranya, gabah, jagung, hasil perikanan, peternakan, perkebunan, produk kerajinan, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dengan demikian, masyarakat tidak lagi bergantung kepada tengkulak yang kerap menentukan harga secara sepihak. Menurutnya, koperasi bukan hanya menjadi tempat berbelanja, tetapi juga pusat kegiatan ekonomi desa.

Suroto berharap, pemerintah konsisten membangun ekosistem koperasi melalui pendidikan, pembiayaan, profesionalisme pengelola, serta pengawasan yang berkelanjutan. Ia optimistis koperasi mampu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi apabila dijalankan secara demokratis, mandiri, profesional, serta berorientasi pada kesejahteraan bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....