Kemkomdigi Petakan 4 Langkah Strategis Tingkatkan Kapabilitas AI Nasional
- 17 Jul 2026 16:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kemkomdigi memetakan empat langkah strategis untuk menutup kesenjangan kapabilitas AI Indonesia, bukan hanya fokus pada penggunaan dasar tetapi juga penggunaan mendalam AI untuk transformasi berbagai sektor.
- Indonesia termasuk lima besar negara dunia dalam penggunaan ChatGPT untuk coding, analitik data, dan pendidikan, dengan hampir separuh angkatan kerja telah memanfaatkan AI setiap minggu.
- Tantangan terbesar Indonesia bukan pada akses teknologi AI tetapi pada kedalaman dan kualitas pemanfaatan AI, memerlukan kerangka pengembangan AI yang jelas dengan perencanaan matang.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), memetakan empat langkah strategis untuk menutup kesenjangan kapabilitas kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) di Indonesia. Hal itu disampaikan Wakil Menteri Komdigi (Wamenkomdigi), Nezar Patria, untuk menghadapi tingginya adopsi AI oleh masyarakat saat ini.
Ia menjelaskan empat langkah strategis itu, tidak hanya difokuskan pada penggunaan dasar AI. Namun, juga untuk mendorong penggunaan mendalam AI untuk mendorong transformasi di berbagai sektor.
Pemanfaatan AI secara mendalam itu dicontohkan Nezar, yakni pada sektor pendidikan, kesehatan, jasa keuangan, dan pemerintahan. Dengan hal ini ia menyakini berbagai sektor tersebut dapat meningkatkan produktivitas secara bertanggung jawab, dan berdaya saing.
"Adopsi saja mungkin tidak cukup, memakai AI saja tidak cukup, tapi bagaimana kapabilitas dalam menggunakannya menjadi sangat penting. AI ini harus didudukkan sebagai tools, complementary, sebagai partner dalam bekerja," kata Nezar dalam diskusi 'Closing the AI Capability Gap in Indonesia, dikutip di Jakarta, Jumat, 17 Juli 2026.
Menurutnya Indonesia saat ini menjadi sebagai salah satu negara dengan tingkat adopsi AI tertinggi di dunia. Indonesia, katanya, juga sebagai lima besar negara dunia, dalam penggunaan ChatGPT untuk coding dan analitik data, serta pendidikan.
Selain itu diungkapkan Nezar, hampir separuh angkatan kerja telah memanfaatkan AI setiap minggu. Namun adopsi tersebut belum sepenuhnya diikuti kemampuan memanfaatkan AI secara mendalam, baik oleh individu maupun dunia usaha.
Dalam konteks tersebut Wamenkomdigi menuturkan, tantangan terbesar Indonesia, bukan terletak pada akses terhadap teknologi. Namun diungkapkannya, tantangan terbesar saat ini yakni terkait kualitas dalam pemanfaatan AI yang mendalam.
"Ini bukan soal kesenjangan akses, tapi kesenjangan dalam hal kedalaman. Kita membutuhkan kerangka pengembangan AI yang jelas dan kuat dengan perencanaan yang matang," ujar Wamenkomdigi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....