Tantangan Perkembangan Teknologi, Kemkomdigi Dukung Konvensi Perhumas 2026

  • 14 Jul 2026 06:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemkomdigi melalui Wamenkomdigi Nezar Patria memberikan dukungan penuh untuk penyelenggaraan Konvensi Humas Indonesia 2026 yang akan diadakan di Surakarta pada 17-18 Oktober 2026.
  • Konvensi Humas Indonesia 2026 dianggap sebagai momentum penting bagi para profesional humas untuk memperkuat kapasitas dalam menghadapi perkembangan teknologi komunikasi, khususnya artificial intelligence (AI).
  • Perkembangan AI dalam komunikasi digital telah mengubah cara organisasi, pemerintah, dan masyarakat memproduksi dan mendistribusikan informasi

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria, menyatakan Kemkomdigi mendukung penuh penyelenggaraan Konvensi Humas Indonesia 2026. Konvensi tersebut, akan digelar di Surakarta pada 17–18 Oktober 2026.

Nezar menilai bahwa forum tersebut menjadi momentum penting, bagi seluruh insan humas, dalam memperkuat kapasitas profesi. Terlebih lagi diungkapkannya, penguatan kapasitas ini menjadi penting dalam menghadapi perkembangan teknologi komunikasi.

"Kami menyambut baik dan mendukung penyelenggaraan Konvensi Perhumas. Harapannya, konvensi ini menjadi forum penting bagi profesi humas Indonesia untuk merespons berbagai perkembangan teknologi komunikasi," kata Nezar dalam keterangan resminya, dikutip di Jakarta, Senin, 13 Juli 2026.

Wamenkomdigi menuturkan bahwa dalam perkembangan teknologi komunikasi ini, telah merubah lanskap komunikasi. Salah satu faktor utamanya, karena perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dalam komunikasi di ruang digital.

Menurut Nezar, perkembangan AI saat ini, telah mengubah cara organisasi, pemerintah, maupun masyarakat dalam memproduksi dan mendistribusikan informasi. Berbagai produk komunikasi publik, kini semakin banyak memanfaatkan teknologi AI, untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja.

Namun demikian Wamenkomdigi menjelaskan, bahwa teknologi tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Tantangan itu dicontohkannya, dengan pemanfaatan teknologi untuk penyebaran disinformasi, misinformasi maupun konten manipulatif, yang menggerus kepercayaan publik.

"Artificial intelligence sekarang banyak digunakan dalam kerja-kerja komunikasi publik, di lanskap komunikasi kita, kita menemukan semakin banyak produk komunikasi yang dihasilkan dengan bantuan AI. Tetapi pada saat yang sama, teknologi ini juga dapat digunakan untuk membuat atau menyebarkan disinformasi dan misinformasi," imbuhnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....