Wamenkomdigi: Humas Harus Jadi Penjernih Informasi Publik
- 14 Jul 2026 05:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan humas harus menjadi clearing house of information untuk menjaga kepercayaan publik di tengah meningkatnya disinformasi dan misinformasi.
- Perkembangan teknologi komunikasi telah memasukkan dunia ke era post-truth, di mana batas antara fakta dan fiksi semakin kabur sementara opini publik lebih mudah dipengaruhi sentimen dibandingkan fakta.
- Disinformasi dan misinformasi telah menjadi salah satu risiko global paling berbahaya menurut World Economic Forum, sehingga profesi humas memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem informasi yang kredibel.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria, menegaskan humas berperan penting dalam mengubah langkah komunikasi global. Terlebih lagi, di tengah derasnya arus disinformasi, misinformasi, dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Nezar menuturkan bahwa humas, tidak hanya cukup sebagai informasi capaian kinerja pemerintah. Namun dijelaskannya, humas harus menjadi penjernih informasi (clearing house of information), dalam menjaga kepercayaan publik.
"Peran humas menjadi sangat penting ketika noise dalam lanskap komunikasi semakin besar. Karena itu, humas harus mampu menjadi clearing house of information yang memastikan publik memperoleh informasi yang benar dan dapat dipercaya," kata Nezar dalam keterangan resminya, dikutip di Jakarta, Senin 13 Juli 2026.
Ia lebih lanjut menilai bahwa perkembangan teknologi komunikasi saat ini, membuat dunia memasuki era post-truth. Kondisi tersebut dikatakan Wamenkomdigi, diperkuat oleh platform digital, yang menjadikan smartphone sebagai sumber utama informasi masyarakat.
Sehingga dijelaskannya, batas antara fakta dan fiksi semakin kabur, sementara opini publik lebih mudah dipengaruhi sentimen dibandingkan fakta. Hal itulah mengakibatkan disinformasi, misinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian, begitu deras diterima masyarakat melalui perangkat digitalnya setiap hari.
Dalam kesempatan itu Wamenkomdigi juga menyoroti hasil kajian dari World Economic Forum. Dalam kajian itu, disinformasi dan misinformasi menjadi salah satu risiko global (global top risk) yang paling berbahaya.
Untuk itu Nezar menegaskan, bahwa penanganan disinformasi bukan sekedar komunikasi semata. Namun dalam penanganannya, profesi humas memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem informasi yang kredibel untuk masyarakat.
"Disinformasi bukan lagi persoalan komunikasi semata, tetapi sudah menjadi ancaman global. Karena itu, organisasi profesi seperti PERHUMAS memiliki posisi yang sangat strategis untuk membangun ekosistem informasi yang kredibel dan meningkatkan kualitas komunikasi publik," ujar Wamenkomdigi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....