Dinas Pendidikan Jateng Pastikan MPLS 2026 Ramah Anak dan Zero Perundungan

  • 13 Jul 2026 20:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Disdikbud Jawa Tengah memastikan MPLS 2026 berlangsung ramah anak, bebas perundungan, dan menciptakan suasana aman serta menyenangkan bagi peserta didik baru.
  • MPLS diperkuat melalui Gerakan Ramah Anak (RANA) yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan tujuan menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman.
  • Disdikbud Jawa Tengah menyiapkan aplikasi pelaporan untuk memantau pelaksanaan MPLS dari tahap perencanaan hingga eksekusi, dengan target zero pelanggaran dan zero perilaku tidak sesuai norma.

RRI.CO.ID, Jakarta – Disdik (Dinas Pendidikan) Jawa Tengah memastikan pelaksanaan MPLS 2026 berlangsung ramah anak. Kegiatan tersebut juga diupayakan bebas perundungan serta menciptakan suasana aman dan menyenangkan bagi peserta didik baru.

Kabid Pendidikan Menengah Atas Disdikbud Jawa Tengah, Kusno, mengatakan seluruh rangkaian Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) telah selesai dilaksanakan. Pada Senin, 13 Juli 2026, seluruh siswa SMA, SMK, dan SLB di Jawa Tengah mulai mengikuti MPLS.

"Hari ini anak-anak di Jawa Tengah, SMA, SMK, SLB semuanya melaksanakan kegiatan belajar pertama kali masuk sekolah dengan diantarkan oleh ayahnya masing-masing melalui program Ayah Mengantar Anak. Alhamdulillah berjalan dengan baik," ujar Kusno dalam wawancara bersama Pro 3 RRI, Jakarta, Senin, 13 Juli 2026.

Menurutnya, pelaksanaan MPLS tahun ini diperkuat melalui Gerakan Ramah Anak (RANA) yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Program tersebut bertujuan menciptakan lingkungan sekolah yang nyaman bagi peserta didik baru.

"Konteks dari Gerakan Ramah Anak adalah menciptakan suasana yang menggembirakan di lingkungan sekolah," katanya. "Suasana tersebut juga harus menyenangkan bagi calon siswa baru."

Kusno menegaskan seluruh kepala sekolah diminta menerapkan MPLS yang ramah anak, lingkungan, dan pergaulan. Ia memastikan pelaksanaan kegiatan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah.

"Seluruhnya menjadi tanggung jawab bapak ibu guru dan karyawan bersama kepala sekolah. Adapun siswa kelas 11 dan 12 hanya dilibatkan sebatas mendampingi, bukan sebagai pelaksana utama," ujarnya.

Ia menambahkan alumni tidak dilibatkan dalam penyelenggaraan MPLS. Mereka hanya dapat berinteraksi secara terbatas, misalnya pada sesi perkenalan.

Untuk memastikan pelaksanaan berjalan sesuai ketentuan, Disdikbud Jawa Tengah menyiapkan aplikasi pelaporan yang digunakan seluruh sekolah. Melalui aplikasi tersebut, sekolah melaporkan tahapan perencanaan hingga pelaksanaan MPLS.

"Tujuannya supaya semua sekolah berlomba-lomba menyelenggarakan MPLS dengan sebaik-baiknya," ucap Kusno. Ia menegaskan pelaksanaan MPLS tidak boleh justru menimbulkan berbagai permasalahan.

Selain menjadi sarana pemantauan, hasil pelaporan juga menjadi dasar evaluasi pelaksanaan MPLS. Disdik Jawa Tengah akan memberikan penghargaan kepada sekolah dengan pelaksanaan MPLS terbaik.

Hingga hari pertama pelaksanaan, Disdikbud Jawa Tengah mengaku belum menerima laporan terkait pelanggaran selama kegiatan berlangsung. "Sampai sore hari ini belum ada dan semoga tidak ada laporan yang negatif," katanya.

Di akhir wawancara, Kusno mengimbau seluruh sekolah agar menjalankan MPLS sesuai petunjuk teknis yang telah ditetapkan. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi peserta didik baru.

"Kami mendorong agar MPLS tahun ini zero pelanggaran dan zero perilaku yang tidak sesuai norma," tuturnya. "Pelaksanaannya juga harus dipenuhi praktik-praktik baik dan keceriaan anak-anak." (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....