Menbud Inginkan Revitalisasi Monumen Pancasila Sakti Berbasis Fakta Sejarah
- 07 Jul 2026 13:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menbud Fadli mendorong revitalisasi Monumen Pancasila Sakti dengan narasi sejarah yang akurat dan berbasis fakta.
- Museum akan diperbarui melalui penambahan koleksi, penataan alur kunjungan, serta penyajian yang lebih mudah dipahami generasi muda.
- Revitalisasi akan didukung teknologi immersive dan kolaborasi dengan Pusjarah TNI untuk memperkuat fungsi edukasi sejarah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menginginkan Monumen Pancasila Sakti, Jakarta Timur tidak hanya menjadi tempat ziarah sejarah. Ia mendorong kawasan itu diperkuat sebagai ruang edukasi yang lebih hidup, berbasis fakta, dan mudah dipahami generasi muda.
Hal itu disampaikannya dalam diskusi kelompok terkumpul bersama Pusat Sejarah (Pusjarah TNI), Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta Selatan, Senin, 6 Juli 2026. Pertemuan tersebut membahas revitalisasi narasi dan konten museum di kawasan Monumen Pancasila Sakti.
Ia mengatakan museum di kawasan tersebut merupakan museum terbuka (open air museum) yang menyimpan jejak sejarah pemberontakan pascakemerdekaan. Oleh sebab itu, pembaruan tidak cukup hanya menyentuh fisik bangunan, tetapi juga cara sejarah disajikan kepada publik.
"Pameran yang ditampilkan harus bersandar pada fakta-fakta. Hal ini juga menjadi tantangan untuk membuat narasi serta penggambaran diorama yang sesuai dengan linimasa komprehensif," katanya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Selasa, 7 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pembaruan museum bukan untuk menghilangkan atau mengubah sejarah. Melainkan proses revitalisasi harus menghadirkan fakta sejarah dengan sumber valid, mulai dari dokumen, buku, arsip, hingga surat kabar.
Ia menilai koleksi museum perlu diperbarui dan ditambah agar runtutan peristiwa dapat ditampilkan lebih lengkap. Dengan begitu, pengunjung tidak hanya melihat diorama, tetapi memahami alur peristiwa secara utuh.
"Perlu dilakukan pembaruan dan penambahan koleksi. Hal tersebut dilakukan untuk menampilkan runtutan peristiwa secara lengkap," ujarnya.
Sebagai museum in-situ, atau museum yang berada di lokasi peristiwa sejarah, ia mengusulkan penataan ulang alur kunjungan. Pengunjung bisa diarahkan lebih dulu ke museum sebelum menuju situs Lubang Buaya.
"Untuk menambah pengalaman dari orang yang berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti, juga perlu dibuat alur perjalanannya. Mungkin ke museum dulu baru ke situs Lubang Buaya," ucapnya, menegaskan.
Lebih lanjut, ia juga mendorong pemanfaatan teknologi dalam tata pamer museum. Menurutnya, penyajian sejarah perlu mengikuti zaman, termasuk dengan teknologi immersive dan diorama yang lebih kuat secara visual.
Teknologi immersive adalah teknologi yang membuat pengunjung merasa berada lebih dekat dengan suasana atau peristiwa yang ditampilkan. Cara ini dinilai penting agar museum tidak terasa kaku, terutama bagi pengunjung muda.
Sementara itu, Kepala Bidang Umum Pusjarah TNI Kolonel Czi Dwi Imam Subagyo menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut. Ia mengatakan Pusjarah TNI memiliki sejumlah dokumen dan data yang dapat dikolaborasikan dengan Kementerian Kebudayaan.
"Museum adalah ruang yang harus kita perbarui dan lengkapi. Kami di Pusjarah TNI punya beberapa dokumen dan data, sehingga nanti kita segera kolaborasikan dengan arahan Menteri Kebudayaan,” katanya.
Di sisi lain, Menbud Fadli menegaskan revitalisasi Monumen Pancasila Sakti harus diarahkan untuk memperkuat fungsi edukasi sejarah. Terutama pada tapak tilas perjalanan bangsa.
"Museum harus menjadi ruang edukasi sejarah dan menjadi bagian dari perjalanan bangsa kita yang aktual. Sekaligus bagian dari memori kolektif bangsa," ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....