Kemeninves Gandeng Australia Perkuat Investasi Hilirisasi Indonesia
- 03 Jul 2026 10:32 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah mengajak investor Australia memperluas investasi di sektor hilirisasi, industri baterai, energi, infrastruktur, ketahanan pangan, dan ekonomi hijau.
- Program hilirisasi nasional mencakup 28 komoditas strategis dengan potensi investasi mencapai USD618 miliar hingga 2040 serta diproyeksikan menciptakan lebih dari tiga juta lapangan kerja.
- Pemerintah menilai optimalisasi ALKI II menjadi peluang memperkuat rantai pasok, logistik, dan kerja sama investasi Indonesia-Australia.
RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu menilai hubungan Indonesia dan Australia memasuki momentum penguatan investasi. Menurutnya, implementasi IA-CEPA semakin memperkuat kerja sama ekonomi kedua negara.
Todotua menyampaikan hal tersebut dalam Indonesia-Australia Business Summit for Indonesia Updates 2026 di Sydney, Selasa, 3 Juni 2026. Ia menyebut, pemerintah juga terus memperbaiki iklim investasi melalui berbagai reformasi kebijakan.
"Kedua negara memiliki ekonomi yang saling melengkapi, didukung oleh kerangka kerja sama IA-CEPA yang semakin matang. Pemerintah terus melakukan reformasi iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan, pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, serta pengembangan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus," ujar Wamen Todotua dalam keterangan tertulis yang diterima RRI.CO.ID pada Kamis, 2 Juli 2026.
Ia juga mengajak investor Australia memperluas investasi di sektor hilirisasi, infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi, dan ekonomi hijau. Langkah tersebut diharapkan memperkuat pertumbuhan ekonomi kedua negara.
Kunjungan kerja Todotua berlangsung pada 29 hingga 30 Juni 2026 di Sydney. Agenda diawali dengan pertemuan bersama KADIN di Indonesia Investment Promotion Center Sydney.
Selanjutnya, Todotua bertemu Pure Battery Technologies untuk membahas investasi industri baterai nasional. Pembahasan meliputi pembangunan fasilitas precursor Cathode Active Material atau pCAM di Indonesia.
Pemerintah menilai investasi tersebut penting melengkapi rantai pasok industri baterai nasional. Indonesia kini telah memiliki fasilitas HPAL dan segera memiliki manufaktur sel baterai.
"Indonesia sudah memiliki fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) dan dalam waktu dekat akan memiliki manufaktur sel baterai. Mata rantai yang tersisa adalah pCAM dan katoda," katanya.
Ia menegaskan investasi Pure Battery Technologies menjadi bagian penting membangun ekosistem baterai nasional yang terintegrasi. Pertemuan juga membahas kesiapan lokasi serta percepatan realisasi proyek.
Selain industri baterai, Todotua bertemu BCI Minerals membahas investasi hilirisasi garam industri. Pembahasan difokuskan pada pemenuhan bahan baku industri dan peningkatan nilai tambah mineral nonlogam.
Pada hari berikutnya, Todotua kembali menjadi pembicara utama dalam Indonesia-Australia Business Summit. Forum tersebut mengangkat tema penguatan sistem pangan, infrastruktur, dan ketahanan ekonomi berkelanjutan.
Ia menjelaskan pemerintah telah menetapkan 28 komoditas strategis dalam program hilirisasi nasional. Potensi investasi sektor tersebut diperkirakan mencapai USD618 miliar hingga 2040.
"Hilirisasi merupakan inti transformasi ekonomi Indonesia. Pemerintah telah mengidentifikasi 28 komoditas strategis dengan potensi investasi mencapai USD618 miliar hingga tahun 2040," ujarnya.
Program tersebut diproyeksikan menghasilkan nilai ekspor sebesar USD857 miliar. Selain itu, kebijakan tersebut diperkirakan menciptakan lebih dari tiga juta lapangan kerja langsung.
Todotua juga menyoroti pentingnya optimalisasi Alur Laut Kepulauan Indonesia atau ALKI II. Jalur tersebut menjadi penghubung strategis Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
"ALKI II merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui Selat Lombok dan Selat Makassar. Pada 2024, koridor ini dilalui perdagangan bijih besi senilai A$138 miliar, batu bara A$91 miliar, dan LNG A$69 miliar," ucapnya.
Menurutnya, potensi tersebut membuka peluang memperkuat rantai pasok, logistik, dan investasi kedua negara. Kementerian Investasi dan Hilirisasi berharap kerja sama tersebut mendorong investasi berkualitas dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....