Ini Profil Alexander Lukashenko, Presiden Belarus yang Kunjungi Istana Merdeka
- 02 Jul 2026 13:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kunjungan Presiden Belarus Alexander Lukashenko ke Istana Merdeka menandai babak baru hubungan strategis Indonesia-Belarus.
- Presiden Belarus Alexander Lukashenko telah memimpin negaranya sejak 1994 dan menjadi salah satu pemimpin terlama di dunia.
- Lukashenko dikenal berperan dalam diplomasi internasional melalui Perjanjian Minsk terkait konflik Ukraina.
RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Belarus Alexander Lukashenko menjadi sorotan seiring kunjungan kenegaraannya ke Indonesia yang berlangsung pada 1-2 Juli 2026. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menerima Lukashenko dalam pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.
Kunjungan tersebut memiliki arti khusus karena Lukashenko menjadi kepala negara pertama yang menginap di Istana Negara selama kunjungan. Pemerintah memberikan penghormatan tersebut menjelang agenda pertemuan resmi kedua pemimpin negara.
Lukashenko merupakan salah satu pemimpin dengan masa jabatan terpanjang di dunia saat ini. Ia pertama kali terpilih sebagai Presiden Belarus pada 1994 dan terus mempertahankan posisinya melalui sejumlah pemilihan umum berikutnya.
Sejak memimpin Belarus, Lukashenko dikenal dengan gaya kepemimpinan yang kuat dan sentralistis. Kebijakan tersebut membuatnya kerap mendapat kritik dari sejumlah negara Barat dan organisasi internasional terkait isu demokrasi serta HAM.
Pada pemilihan presiden 2006, Lukashenko kembali memenangkan pemilu di tengah tuduhan pelanggaran dan kecurangan. Sejumlah negara Barat, termasuk Uni Eropa, kemudian menjatuhkan berbagai pembatasan terhadap dirinya dan sejumlah pejabat Belarus.
Namun, hubungan Belarus dengan Eropa sempat mencair pada 2008 ketika Uni Eropa menangguhkan sementara larangan perjalanan terhadap Lukashenko. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memperbaiki hubungan diplomatik dengan Belarus.
Lukashenko kembali memenangkan pemilihan presiden pada 2010 dan melanjutkan kepemimpinannya. Posisinya semakin menguat ketika kembali terpilih pada pemilu 2015 dengan perolehan sekitar 83,5 persen suara.
Pada periode tersebut, Belarus mulai mendorong pengembangan ekonomi digital dan industri teknologi tinggi. Pemerintah Belarus juga mengembangkan sektor energi, termasuk industri nuklir untuk mendukung kebutuhan nasional.
Peran Lukashenko dalam diplomasi internasional juga mendapat perhatian ketika konflik Ukraina timur pecah pada 2014. Saat itu, ia menawarkan Minsk sebagai lokasi perundingan antara Rusia dan Ukraina.
Pertemuan tersebut melahirkan Perjanjian Minsk yang menjadi salah satu upaya menghentikan konflik bersenjata di wilayah timur Ukraina. Langkah tersebut membuat Belarus sempat dipandang sebagai mediator dalam upaya perdamaian kawasan.
Pada pemilihan presiden 2020, Lukashenko kembali meraih kemenangan dengan perolehan lebih dari 80 persen suara. Meski hasil pemilu memicu protes besar di dalam negeri, ia tetap melanjutkan kepemimpinannya hingga saat ini.
Dalam kebijakan luar negeri, Belarus terus berupaya memperluas kerja sama dengan berbagai negara, termasuk di kawasan Asia. Indonesia menjadi salah satu mitra penting Belarus di Asia Tenggara, terutama pada sektor perdagangan, pertanian, pupuk, dan teknologi.
Kunjungan Lukashenko ke Jakarta kali ini menjadi yang kedua setelah kunjungan pertamanya pada 2013. Pertemuan dengan Presiden Prabowo diharapkan membuka babak baru hubungan bilateral melalui peluncuran Road Map for Bilateral Cooperation 2026-2030.
Bagi Indonesia, Belarus merupakan mitra strategis di kawasan Eurasia sekaligus anggota penting Uni Ekonomi Eurasia. Sementara bagi Belarus, Indonesia dipandang sebagai pintu masuk menuju pasar ASEAN yang terus berkembang dan memiliki potensi ekonomi besar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....