IFP Bantu Anak Berkebutuhan Khusus Rasakan Pengalaman Deep Learning

  • 30 Jun 2026 17:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kehadiran teknologi Interactive Flat Panel membantu guru menghadirkan materi yang dapat disesuaikan dengan karakter belajar setiap murid, baik visual maupun auditori.
  • Bagi murid dengan hambatan penglihatan, IFP membuka lebih banyak kesempatan untuk mengakses materi melalui audio dan video
  • Kombinasi gambar, video, suara, dan animasi membuat anak lebih mudah memahami materi dibandingkan pembelajaran konvensional.

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan ketika metode pembelajaran mampu mengikuti kebutuhan setiap anak. Hal itulah yang dirasakan para guru dan murid SLB YPCC Banda Aceh setelah memanfaatkan Interactive Flat Panel (IFP).

Kehadiran teknologi ini membuat suasana kelas lebih hidup. IFP juga turut membantu guru menghadirkan materi yang dapat disesuaikan dengan karakter belajar setiap murid, baik visual maupun auditori.

Bagi murid dengan hambatan penglihatan, IFP membuka lebih banyak kesempatan untuk mengakses materi melalui audio dan video. Selain itu, tampilan dilayar yang dapat diperbesar, memudahkan siswa low vision untuk menangkap materi.

Guru Kelas Hambatan Penglihatan SLB YPPC Banda Aceh, Novi Widiastuti, merasakan perubahan yang signifikan sejak menggunakan perangkat tersebut. "Interactive Flat Panel sangat membantu pembelajaran, terutama bagi murid tunanetra yang mengandalkan informasi melalui audiovisual,” kata Novi, dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 30 Juni 2026.

“Anak-anak menjadi lebih semangat, antusias, dan rasa ingin tahunya meningkat karena pembelajaran tidak hanya disampaikan secara lisan. Tetapi juga melalui media yang bisa disesuaikan dengan kemampuan penglihatan masing-masing," ujarnya.

Sebelumnya, Novi lebih bergantung pada buku Braille, speaker, dan laptop dengan pengulangan materi yang cukup sering. Namun kini, ia memiliki lebih banyak pilihan media.

"Saya bisa memperbesar huruf dan gambar untuk murid low vision, sementara murid tunanetra dapat belajar melalui narasi, audio, video, serta materi yang dipadukan dengan huruf Braille. Pembelajaran menjadi jauh lebih interaktif dan membuat murid lebih percaya diri mengakses materi," katanya, seraya menceritakan pengalamannya.

Manfaat serupa juga dirasakan guru kelas IIIQ, Anggawinata. Menurutnya, kombinasi gambar, video, suara, dan animasi membuat anak lebih mudah memahami materi dibandingkan pembelajaran konvensional.

"Anak autisme lebih mudah belajar lewat gambar dan suara. Dulu ada murid yang sulit fokus dan sering tantrum, tetapi ketika saya memutar video pembelajaran di IFP, ia bisa duduk tenang hingga selesai dan fokus memperhatikan layar," kata Anggawinata.

Meski demikian, penggunaan teknologi di kelas tetap memerlukan pendampingan yang cermat. Anggawinata mengingatkan, guru juga perlu selalu sigap, terutama saat mendampingi murid autisme.

"Guru harus selalu mendampingi ketika anak menggunakan IFP. Saat anak sedang tantrum, ada risiko mereka merusak layar tanpa disadari," ujarnya.

"Karena itu pengawasan yang intens dan kesiapsiagaan guru menjadi bagian penting. Sehingga pembelajaran tetap aman dan efektif,” katanya.

Keduanya berharap semakin banyak unit IFP di setiap kelas untuk mengisi materi pembelajaran yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus. Dengan demikian, lebih banyak murid dapat merasakan manfaat pembelajaran yang inklusif, menarik, dan sesuai dengan cara belajar mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....