IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.116, Sebanyak 445 Saham Berakhir Turun

  • 22 Jun 2026 17:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • IHSG ditutup melemah 0,98 persen ke level 6.116,69 pada akhir perdagangan Senin, 22 Juni 2026.
  • Sentimen geopolitik Timur Tengah dan ketidakpastian damai AS-Iran menekan pasar saham.
  • Investor menanti data ekonomi AS serta hasil tinjauan MSCI terhadap status pasar Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin, 22 Juni 2026. IHSG berakhir di level 6.116,69 atau turun 60,44 poin setara 0,98 persen.

Pelemahan terjadi setelah IHSG sempat dibuka menguat pada awal perdagangan. Indeks dibuka di level 6.217,04 dan sempat menyentuh posisi tertinggi 6.226,71.

Mayoritas saham yang diperdagangkan berada di zona merah hingga penutupan. Sebanyak 445 saham melemah, 221 saham menguat, dan 147 saham lainnya stagnan.

Aktivitas perdagangan berlangsung cukup ramai sepanjang hari. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp13,29 triliun dengan volume perdagangan sekitar 22,26 miliar lembar saham.

Frekuensi transaksi juga mencapai lebih dari 1,7 juta kali transaksi. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas pelaku pasar tetap tinggi meski indeks berakhir melemah.

Tim Analis Phintraco Sekuritas menilai pelemahan pasar dipengaruhi sentimen global. Mayoritas indeks saham di Asia dan Eropa juga ditutup melemah pada akhir pekan lalu.

Investor masih meragukan keberlanjutan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Keraguan tersebut muncul setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz.

Penutupan dilakukan karena Amerika Serikat dinilai belum memenuhi salah satu klausul perjanjian terkait Lebanon. Sementara pasukan Israel masih melanjutkan operasi militernya di wilayah tersebut.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Di antaranya indeks harga konsumsi pribadi (PCE), pemesanan barang tahan lama, dan indeks sentimen konsumen.

Tim Phintraco memperkirakan indeks PCE inti Mei 2026 naik 0,3 persen secara bulanan. Sebelumnya, The Fed juga merevisi naik proyeksi inflasi PCE untuk tahun 2026 dan 2027.

Dari dalam negeri, investor menunggu sejumlah data ekonomi yang akan dirilis pekan ini. Salah satunya data jumlah uang beredar yang mencerminkan kondisi likuiditas perekonomian nasional.

Pelaku pasar juga menantikan hasil Annual Market Classification Review dari MSCI. Laporan tersebut akan menentukan status Indonesia dalam kelompok Emerging Market.

Bursa Efek Indonesia berencana bertemu MSCI untuk mengklarifikasi hasil evaluasi aksesibilitas pasar yang dirilis pekan lalu. Salah satu catatan yang menjadi perhatian ialah ketersediaan informasi pasar modal dalam bahasa Inggris.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....