IHSG Dibuka Naik ke Level 6.217, Investor Cermati Review MSCI dan Sentimen Global
- 22 Jun 2026 10:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- IHSG dibuka di level 6.217,04 atau naik 39,96 poin (0,65 persen) dibanding penutupan Jumat, 19 Juni 2026 di level 6.177,13.
RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kenaikan pada pembukaan perdagangan Senin, 22 Juni 2026. Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada pada level 6.217,04.
Ini berarti naik 39,96 poin atau sekitar 0,65 persen dari level 6.177,13 pada penutupan perdagangan Jumat, 19 Juni 2026. Kenaikan terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang masih mencermati berbagai sentimen global dan domestik.
Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan pergerakan IHSG cenderung berada dalam fase konsolidasi. Menurut tim, arah pasar akan dipengaruhi perkembangan dari luar negeri maupun sejumlah agenda penting di dalam negeri.
“Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan konsolidasi,” katanya, Senin 22 Juni 2026. “Pergerakan IHSG akan dipengaruhi faktor eksternal maupun faktor domestik, terutama pengumuman MSCI yang akan dirilis segera.”
Sentimen global masih dibayangi ketidakpastian terkait implementasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Keraguan investor terhadap keberlanjutan kesepakatan membuat mayoritas bursa saham di kawasan Eropa dan Asia ditutup melemah akhir pekan lalu.
Kekhawatiran meningkat setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz. Langkah itu diambil karena Teheran menilai Washington belum memenuhi salah satu klausul perjanjian yang berkaitan dengan Lebanon.
Hingga kini, konflik di kawasan tersebut juga belum sepenuhnya mereda. Pasukan Israel masih terus melancarkan serangan ke Lebanon, sementara Iran menegaskan bahwa kesepakatan hanya akan dijalankan jika hak-haknya dijamin.
Selain perkembangan geopolitik, investor global juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari AS. Data yang menjadi perhatian antara lain indeks harga konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE).
“Sebelumnya The Fed telah menaikkan proyeksi inflasi PCE untuk 2026 dan 2027 masing-masing menjadi 3,6 persen dan 2,3 persen. Proyeksi inflasi inti PCE tahun ini juga direvisi naik menjadi 3,3 persen,” ujar Tim Phintraco.
Dari dalam negeri, investor juga mencermati sejumlah data ekonomi yang akan dirilis pekan ini. Salah satunya adalah data jumlah uang beredar yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi likuiditas perekonomian nasional.
Perhatian pasar juga tertuju pada hasil Annual Market Classification Review dari MSCI. Laporan tersebut dinilai penting karena akan menentukan status Indonesia dalam kategori pasar berkembang atau emerging market.
“Laporan tersebut akan menentukan status Indonesia di emerging market. Karena itu, hasil review MSCI menjadi salah satu sentimen yang paling dinantikan pelaku pasar,” kata Tim Phintraco.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, mengatakan pihaknya akan meminta penjelasan kepada MSCI. Yaitu terkait hasil MSCI Global Market Accessibility Review yang dirilis pekan lalu.
Menurut Jeffrey, Bursa Efek Indonesia telah mewajibkan seluruh emiten menyampaikan laporan keuangan dalam dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keterbukaan informasi bagi investor domestik maupun internasional.
Hasil tinjauan MSCI sebelumnya memberikan penilaian negatif pada aspek information flow. Penilaian tersebut berkaitan dengan ketersediaan informasi pasar modal dalam bahasa Inggris yang dinilai masih perlu ditingkatkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....