Hasil Penelitian: Mayoritas Kemasan Rokok Elektronik Menarik bagi Remaja
- 22 Jun 2026 23:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Penelitian Institute for Global Tobacco Control (IGTC) Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menemukan mayoritas produk rokok elektronik di Indonesia menggunakan kemasan yang berpotensi menarik minat remaja.
- Profesor Johns Hopkins Katherine Clegg Smith menilai temuan penelitian menunjukkan pentingnya regulasi pembatasan pemasaran rokok elektronik.
RRI.CO.ID, Jakarta - Penelitian Institute for Global Tobacco Control (IGTC) Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menemukan mayoritas produk rokok elektronik di Indonesia menggunakan kemasan yang berpotensi menarik minat remaja. Temuan tersebut menyoroti pentingnya regulasi guna membatasi strategi pemasaran produk rokok elektronik kepada anak muda.
Studi di Jakarta, Medan, dan Surabaya menganalisis 825 produk rokok elektronik yang beredar di pasaran Indonesia. Sebanyak 58 persen produk menggunakan desain menarik bagi anak muda, seperti kartun, animasi, dan tipografi unik.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Tobacco Control menemukan 96 persen produk rokok elektronik mencantumkan varian rasa. Rasa buah-buahan dan makanan penutup mendominasi kemasan, sehingga dinilai berpotensi meningkatkan daya tarik bagi remaja.
Profesor Johns Hopkins Katherine Clegg Smith menilai temuan penelitian menunjukkan pentingnya regulasi pembatasan pemasaran rokok elektronik. Menurutnya, pengaturan kemasan diperlukan untuk mengurangi daya tarik produk sekaligus meningkatkan kesadaran risiko kesehatan.
“Peringatan kesehatan berukuran besar bertujuan mencegah penggunaan rokok elektronik oleh konsumen baru dan meningkatkan kesadaran risiko. Selain itu, aturan tersebut membatasi penggunaan visual pemasaran yang digunakan perusahaan dalam mempromosikan produknya,” kata Smith dalam keterangan pers di Jakarta, Senin, 22 Juni 2026.
Menurutnya, peringatan kesehatan bergambar dinilai dapat membantu masyarakat memahami risiko penggunaan rokok elektronik secara lebih baik. Penelitian juga menyoroti pentingnya implementasi PP Nomor 28 Tahun 2024 tentang pengendalian produk tembakau.
Peringatan kesehatan bergambar dapat membantu masyarakat memahami risiko penggunaan rokok elektronik secara lebih baik dan menyeluruh. Implementasi PP Nomor 28 Tahun 2024 penting untuk memperkuat pengendalian produk tembakau dan nikotin,” ujarnya.
Ketua Pusat Pendukung Pengendalian Tembakau Asosiasi Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPT-APMI), Sumarjati Arjoso menilai pembatasan perisa dapat mengurangi daya tarik rokok elektronik bagi kalangan muda. Ia menekankan penerapan regulasi perlu diawasi karena perisa masih menjadi strategi pemasaran utama industri tembakau.
“Kami memperkirakan pelarangan perisa non-tembakau akan memberikan dampak signifikan terhadap pemasaran produk tembakau. Terutama yang menyasar remaja,” kata Sumarjati Arjoso.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....