Kementan Perkuat Mitigasi Kemarau Demi Ketahanan Pangan Nasional

  • 20 Jun 2026 06:28 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perubahan iklim menjadi faktor utama yang berpotensi mengganggu produksi pertanian serta ketahanan pangan nasional.
  • Irigasi menjadi aspek paling penting untuk menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau berlangsung.
  • Pentingnya penggunaan varietas tahan kekeringan seperti Inpago dan hibrida padi gogo, produksi pangan nasional tetap terjaga apabila seluruh pihak menjalankan langkah mitigasi secara konsisten.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penyuluh Pertanian Ahli Utama Pusluhtan Kementan, Prof. Dedi Nursyamsi, memaparkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau ekstrem tahun ini. Menurutnya, perubahan iklim menjadi faktor utama yang berpotensi mengganggu produksi pertanian serta ketahanan pangan nasional.

Dedi menerangkan bahwa sektor pertanian sangat bergantung terhadap kondisi iklim karena berkaitan langsung dengan makhluk hidup. “Menghadapi El Nino Godzilla ini, kita harus benar-benar siap dan mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuk,” tuturnya kepada PRO3 RRI, Jumat, 19 Juni 2026.

Ia menegaskan bahwa irigasi menjadi aspek paling penting untuk menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau berlangsung. Menurutnya, berkurangnya curah hujan menyebabkan pasokan air menyusut sehingga risiko penurunan produksi semakin meningkat signifikan.

“Setelah wilayah berisiko teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memperkuat irigasi suplementer melalui berbagai sumber air,” katanya. Selain itu, Prof. Dedi mengemukakan bahwa kelembapan area sekitar perakaran tanaman harus tetap terjaga selama kemarau.

Dia meyakini pemerintah daerah, penyuluh, dan petani perlu berkolaborasi karena efisiensi penggunaan air menentukan keberhasilan budidaya. “Jangan sampai wilayah perakaran tanaman kering karena kondisi itu dapat menjadi petaka bagi pertumbuhan tanaman,” ujar Prof. Dedi.

Dijelaskannya, bahwa konservasi air dapat dilakukan menggunakan kompos maupun biochar dari biomassa sisa tanaman. Teknologi tersebut membantu mempertahankan kelembapan tanah sekaligus meningkatkan kemampuan tanaman menyerap unsur hara optimal.

Dedi turut menyoroti pentingnya penggunaan varietas tahan kekeringan seperti Inpago dan hibrida padi gogo. Ia optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga apabila seluruh pihak menjalankan langkah mitigasi secara konsisten.

Dikabarkan sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, musim kemarau terus meluas di berbagai wilayah Indonesia pada pertengahan Juni 2026. Namun, sejumlah daerah masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi akibat pengaruh dinamika atmosfer.

BMKG mengatakan, kondisi atmosfer di Indonesia, khususnya wilayah bagian selatan, semakin menunjukkan karakteristik musim kemarau. Situasi tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah hari tanpa hujan di sejumlah daerah.

Berdasarkan pemantauan BMKG, sebagian besar wilayah Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara telah mengalami periode tanpa hujan. Yakni, dalam kategori menengah hingga sangat panjang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....